CuaninAja
Beranda TEKNO 120 Pesantren di Aceh Timur Terkena Dampak Banjir Bandang

120 Pesantren di Aceh Timur Terkena Dampak Banjir Bandang

Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Timur mengungkapkan bahwa ratusan pesantren atau dayah dan balai pengajian mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025. Kejadian tersebut mengakibatkan lebih dari seratus unit pesantren terkena dampak, menciptakan tantangan besar bagi kegiatan pendidikan keagamaan di daerah tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan Dayah, Saiful Nahar, mengungkapkan bahwa pendataan awal menunjukkan sebanyak 120 unit bangunan dayah mengalami kerusakan beragam. Hal ini menunjukkan urgensi penanganan cepat dari pemerintah dan instansi terkait untuk memulihkan sarana pendidikan yang terdampak.

Kesulitan yang Dihadapi Dayah dan Balai Pengajian di Wilayah Terdampak

Dari data yang diperoleh, kerusakan terdiri dari beberapa kategori, yaitu 16 unit mengalami kerusakan berat, 80 unit rusak sedang, dan 24 unit lainnya rusak ringan. Kerusakan ini tidak hanya sebatas fisik bangunan, tetapi juga merambah ke sarana dan prasarana lainnya.

Ruang belajar, asrama santri, hingga dapur tercatat mengalami kerusakan. Kitab-kitab pengajian juga terendam dalam banjir yang cukup parah, memperburuk situasi pendidikan dan keagamaan di daerah itu.

Banjir yang melanda tidak hanya menyerang pesantren, tetapi juga balai pengajian yang tersebar di berbagai kecamatan. Tercatat, sekitar 70 unit balai pengajian terkena dampak dari bencana tersebut.

Saiful Nahar menjelaskan bahwa dari jumlah tersebut, 16 unit mengalami kerusakan berat, 43 unit rusak sedang, dan 11 unit rusak ringan. Kerusakan ini memperlihatkan bagaimana infrastruktur pendidikan keagamaan sangat rentan terhadap bencana alam.

Kerusakan berat umumnya dialami oleh bangunan yang terendam air dalam waktu yang cukup lama. Hal ini menyebabkan struktur bangunan melemah sehingga memengaruhi kondisi keseluruhan bangunan.

Dampak Banjir Terhadap Aktivitas Belajar Mengajar di Dayah

Sekolah-sekolah keagamaan ini kini harus menghadapi tantangan besar, terutama di sektor pendidikan. Aktivitas belajar mengajar di banyak dayah dan balai pengajian terganggu, dan beberapa di antaranya terpaksa menghentikan sementara kegiatan pengajian.

Meskipun ada yang tetap melaksanakan pembelajaran, kondisi darurat dan terbatasnya fasilitas membuat proses belajar menjadi tidak optimal. Saiful menyoroti pentingnya dukungan dari pemerintah untuk mengatasi masalah ini.

Pihak Dinas Pendidikan Dayah telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk menindaklanjuti kerusakan yang terjadi. Pendataan lebih lanjut terus dilakukan untuk menentukan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi di tiap lokasi.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Para orang tua dan pengurus dayah berharap agar fasilitas pendidikan dapat dipulihkan secepatnya untuk melanjutkan pendidikan anak-anak mereka.

Dengan anggaran yang diperlukan untuk pemulihan, diharapkan pemerintah pusat dan provinsi dapat mengambil langkah cepat demi kepentingan pendidikan keagamaan yang berperan penting dalam pembinaan akhlak generasi muda.

Pentingnya Peran Lembaga Pendidikan Agama dalam Masyarakat

Pendidikan keagamaan memegang peranan vital dalam membentuk karakter dan moral generasi muda. Lembaga-lembaga dayah dan balai pengajian tidak hanya sebagai tempat belajar agama, tetapi juga sebagai pusat pembinaan akhlak. Dengan berbagai kerusakan yang terjadi, maka bencana ini memberikan dampak langsung kepada generasi penerus.

Selain sebagai tempat belajar, dayah juga berfungsi sebagai komunitas sosial bagi masyarakat. Oleh karena itu, pemulihan fasilitas pendidikan ini sangat krusial untuk menjaga kelangsungan sosial dan budaya masyarakat lokal.

Tentu dibutuhkan kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan pihak-pihak terkait untuk memastikan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan dapat beroperasi kembali dengan baik. Harapannya, langkah-langkah cepat dapat dilakukan sesegera mungkin.

Saiful Nahar juga menegaskan bahwa upaya rehabilitasi akan sangat bergantung pada dukungan eksternal. Tanpa adanya perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat luas, pemulihan ini bisa berjalan sangat lambat.

Kami berharap, dengan terjadinya bencana ini, semua pihak menjadi lebih peka terhadap kebutuhan pendidikan di wilayah yang rawan bencana. Dengan begitu, langkah-langkah antisipasi dan pemulihan dapat dilakukan secara lebih terencana dan efektif.

Komentar
Bagikan:

Iklan