Sinopsis Empat Musim Pertiwi, Film Indonesia yang Diperankan Putri Marino dan Arya Saloka untuk Oscar
Daftar isi:
loading…
Arya Saloka dan Putri Marino di Film Empat Musim Pertiwi. Foto: Forka Films
Kepulangan seorang individu setelah sekian lama pasti menyimpan banyak cerita. Terutama ketika kepulangan itu membawa beban emosional yang bertumpuk, seperti yang dialami Pertiwi.
Dalam film “Empat Musim Pertiwi”, kita diajak melihat perjalanan Pertiwi pulang ke kampung halamannya setelah dua dekade. Namun, yang ia temukan bukanlah sambutan hangat, melainkan penolakan dari warga sekitar yang sulit dilupakan.
Pertiwi kembali ke rumah keluarganya, tetapi faktanya, dunia di sekelilingnya telah berubah. Ketidakmampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru merupakan gambaran mendalam dari trauma masa lalunya.
Film yang disutradarai oleh Kamila Andini ini membawa kita merasakan dilema yang dialami Pertiwi. Di satu sisi, ia berharap dapat menemukan tempat yang aman, tetapi di sisi lain, masa lalu selalu membayangi langkahnya.
Menggali Trauma dan Penolakan dalam Keluarga
Pengalaman pahit yang pernah dilalui Pertiwi menjadi penghalang terbesar dalam perjalanan hidupnya. Kepulangannya kerap kali disertai bisikan-bisikan negatif dari kenangan yang ingin ia lupakan.
Ia harus berhadapan dengan anggota keluarganya yang dulunya tidak pernah bisa menerima tindakan yang mengakibatkan keterasingan dirinya. Keterasingan ini menciptakan jarak yang sulit untuk dijembatani.
Tidak hanya keluarganya, Pertiwi juga menemukan bahwa teman-teman masa kecilnya telah menjauh. Penolakannya seakan menjadi lingkaran setan yang terus berputar. Di sinilah konflik emosional dalam film ini mulai berkembang.
Di antara kegalauan tersebut, muncul sosok Bisma yang diperankan oleh Arya Saloka. Ia menjadi jembatan harapan bagi Pertiwi untuk memulai kehidupan baru, meski lingkungan sekitarnya tampak menutup akses untuk hal itu.
Pernikahan Antara Harapan dan Kenyataan
Bisnis dan interaksi di lingkungan baru sepertinya sulit untuk dibangun oleh Pertiwi. Namun, sosok Bisma menjadi sinar di tengah kegelapan yang menyelimuti hidupnya. Kehadirannya seolah menjadi tali pengikat yang menawarkan bentuk penerimaan yang tulus.
Di sisi lain, Bisma juga menjalani pergulatan batin sendiri. Ia berusaha membantu Pertiwi sembari menghadapi penolakan dari orang-orang yang menganggapnya berbahaya. Meskipun ada ikatan batin, tantangan tetap ada.
Kami melihat bagaimana Bisma berjuang untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap Pertiwi. Ketika seorang individu mencoba melawan stigma, tentu ada resiko yang harus dihadapi, baik untuk dirinya maupun orang-orang terdekat.
Pertentangan batin ini bukan hanya terjadi pada Pertiwi, tetapi juga Bisma yang terjebak antara tanggung jawab dan keinginannya untuk menyelamatkan Pertiwi dari lingkungan yang menekannya. Konflik inilah yang memberikan kedalaman pada film ini.
Perjalanan Menuju Penerimaan Diri dan Lingkungan
Film “Empat Musim Pertiwi” menceritakan lebih dari sekadar konflik individu; ia menggambarkan bagaimana masyarakat berinteraksi dengan perbedaan. Ketika Pertiwi berjuang untuk diakui, kita diingatkan tentang nilai dari penerimaan dalam lingkungan sosial.
Terdapat arus cerita yang menunjukkan bahwa penerimaan bukanlah hal yang mudah. Banyak faktor yang mempengaruhi sikap masyarakat, termasuk ketakutan akan hal yang tidak dikenal. Dalam hal ini, trauma masa lalu memiliki dampak yang lebih luas.
Peniadaan stigma dalam masyarakat menjadi salah satu pesan kuat yang ingin disampaikan film ini. Bagaimana kita dapat belajar dari kesalahan masa lalu dan membuka diri terhadap potensi perubahan yang ada di depan mata.
Di sini, Mak Ira, yang diperankan oleh Christine Hakim, berperan penting. Ia menjadi figur yang memberi dukungan moral bagi Pertiwi, menunjukkan bahwa ada harapan meskipun terjalnya proses penerimaan.
Melalui interaksi antar karakter, film ini membawa kita untuk memahami bahwa setiap individu berhak mendapatkan kesempatan kedua. Dengan latar belakang yang beragam, perjalanan Pertiwi menjadi refleksi bagi siapa pun yang berjuang melawan stigma sosial dan pencarian identitas.








