Perbandingan Suara PDIP dan PSI di Jawa Tengah
Daftar isi:
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menargetkan Jawa Tengah menjadi pusat kekuatan politik saat membuka Rapat Koordinasi Wilayah Dewan Pimpinan Wilayah PSI di Kota Solo. Meskipun pemilihan umum masih berlangsung tiga tahun lagi, PSI sudah mulai mempersiapkan diri dengan target ambisius untuk merebut 17 kursi DPRD Provinsi pada Pemilu mendatang.
PSI saat ini mengklaim memiliki 12 anggota DPRD di Jawa Tengah, tetapi angka tersebut dianggap belum memadai. Untuk mewujudkan target yang lebih tinggi, partai ini perlu melakukan langkah strategis guna menarik minat masyarakat.
Dalam pernyataan yang disampaikan, Ketua Umum menyebutkan bahwa Kota Solo mengalami peningkatan suara yang signifikan. Dari hanya satu kursi di Pemilu 2019, PSI kini berhasil meraih lima kursi pada Pemilu mendatang dan berhasil menempatkan salah satu kadernya sebagai pimpinan DPRD Kota Solo.
Strategi Memperkuat Basis Dukungan di Jawa Tengah
PSI melihat bahwa Jawa Tengah memiliki potensi besar untuk dijadikan basis dukungan. Dalam sejarahnya, daerah ini dikenal sebagai ‘kandang banteng’ dengan dominasi PDIP dalam berbagai pemilihan. Kaesang Pangarep menekankan pentingnya kolaborasi dengan masyarakat untuk meraih sukses pada Pemilu 2029.
Melihat respon dari PDIP, mereka menegaskan akan fokus pada pembenahan internal dan mengingatkan bahwa pemilih yang akan menentukan arah politik ke depan. Menurut mereka, waktu masih cukup untuk melakukan perubahan dan konsolidasi.
Sekretaris Jenderal PDIP menyatakan bahwa kritik internal di dalam partai diperlukan untuk meningkatkan performa. Beberapa isu yang menjadi fokus adalah penanganan bencana dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Perbandingan Suara Antara PSI dan PDIP di Pemilu Sebelumnya
Pada Pemilu 2019, PDIP berhasil meraih sekitar 5.769.663 suara di Jawa Tengah, menjadikannya sebagai partai dengan perolehan suara tertinggi. Dari jumlah tersebut, PDIP mengantongi 26 kursi DPR RI dari daerah pemilihan setempat.
Sementara itu, PSI hanya mampu meraih 249.806 suara, yang tidak cukup untuk meloloskan mereka ke parlemen pada pemilu tersebut. Situasi ini menunjukkan tantangan besar yang dihadapi PSI dalam mempersiapkan diri untuk pemilu mendatang.
Di Pemilu 2024, PDIP kembali menguasai suara dengan mencapai 5.270.261, di mana mereka memperoleh 23 kursi DPR dari daerah pemilihan yang sama. PSI kembali tidak lolos ambang batas parlemen, meski meningkatkan perolehan suara menjadi 477.883.
Dominasi PDIP di DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota
Di tingkat DPRD Provinsi pada Pemilu 2019, PDIP memperoleh sekitar 32,53 persen suara, menjadikan mereka pemenang dengan 42 kursi. Sementara PSI pada pemilu yang sama hanya mendapat 1,11 persen suara dan tidak mendapatkan kursi.
Memasuki Pemilu 2024, PDIP terlihat masih dominan dengan 33 kursi hasil perolehan 5.270.261 suara, sedangkan PSI hanya meraih 2 kursi dengan total 478.063 suara. Hal ini menggambarkan pertarungan ketat di level provinsi.
Beralih ke tingkat DPRD Kabupaten/Kota, dalam Pemilu 2019, di Kota Semarang, PDIP meraih 35,55 persen dengan 19 kursi. Sebaliknya, PSI memperoleh 4,44 persen suara dengan 2 kursi. Hal ini menunjukkan PSI memiliki pekerjaan besar dalam meningkatkan dukungan di pemilu mendatang.
Peluang dan Tantangan PSI Menjelang Pemilu 2024
PSI memandang ada peluang untuk meningkatkan perolehan suara mereka jika dapat memperkuat jejaring dan berkomunikasi lebih efektif dengan pemilih. Banyaknya masalah sosial yang dihadapi masyarakat dapat menjadi peluang untuk menunjukkan keberadaan dan kepedulian PSI.
Namun, PSI juga menghadapi tantangan dalam menarik perhatian pemilih yang sudah terlanjur loyal kepada PDIP. Terlebih lagi, terdapat iklim politik yang kompetitif di Jawa Tengah yang mengharuskan PSI untuk merencanakan strategi dengan matang.
Keberhasilan PSI dalam meraih suara di Kota Solo dapat menjadi model. Jika PSI mampu mengeksplorasi dan menduplikasi strategi yang sama di daerah lain, mereka mungkin bisa meningkatkan posisi mereka menjelang Pemilu 2024.







