Curhatan di DPR, Uang Pribadi Habis untuk Bantuan Korban Bencana dan Konflik
Daftar isi:
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) mengungkapkan kecemasan mengenai kurangnya dukungan finansial untuk korban bencana di Indonesia. Dalam pertemuan dengan Komisi XIII DPR, Menteri menyatakan bahwa bantuan sosial dari negara sangat minim, membuatnya harus mengeluarkan uang pribadi untuk membantu.
Dalam situasi darurat, seperti bencana alam atau konflik sosial, Kementerian HAM mengalami kesulitan dalam memberikan bantuan yang cepat dan efektif. Menteri menyoroti bahwa sistem penganggaran yang ada saat ini tidak mendukung kebutuhan saat bencana terjadi.
“Kami tidak bisa berbuat banyak,” ujar Menteri tersebut, “karena sistem penganggaran saat ini sangat tergantung pada Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD). Ini sangat membatasi kami dalam menyediakan bantuan segera,” tambahnya.
Ketidakcukupan Anggaran dan Dampaknya terhadap Penanganan Bencana
Menteri HAM menegaskan bahwa ketidakcukupan anggaran menjadi masalah utama dalam menangani kasus-kasus bencana. Ia menyadari pentingnya reformasi dalam sistem penganggaran agar Kementerian dapat beroperasi dengan lebih efektif dan responsif.
“Saya harus memanfaatkan uang pribadi saya untuk cepat membantu mereka yang terkena dampak,” ujarnya dengan nada serius. Hal ini mengindikasikan bahwa situasi tersebut menciptakan beban tambahan bagi para pejabat yang seharusnya tidak terjadi.
Lebih lanjut, Menteri menegaskan bahwa ia bukan seorang pengusaha dengan banyak sumber daya. Sebagai seorang aktivis, ia merasa terjebak dalam sistem yang tidak mendukung kerja kerasnya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Pentingnya Dukungan dari Pemerintah dalam Penanganan Kasus Hak Asasi Manusia
Meskipun mengalami keterbatasan, Menteri mengatakan bahwa anggaran yang diterima Kementerian untuk penanganan kasus telah memadai. “Kami memiliki anggaran yang cukup untuk menangani masalah hak asasi manusia di Indonesia, dan kami siap untuk melakukannya,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa keberadaan anggaran tidak hanya penting untuk penanganan konflik sosial, tetapi juga untuk isu-isu terkait ras, etnis, dan agama. Kementerian ingin memastikan bahwa perlindungan hak asasi manusia di Indonesia berjalan dengan baik.
Selama pertemuan, Menteri juga menggarisbawahi pentingnya kerjasama antara Kementerian HAM dan Komisi XIII DPR. Dukungan legislatif dianggap vital untuk memastikan bahwa setiap kebijakan dapat diimplementasikan secara efektif di lapangan.
Prestasi Indonesia di Jajaran Internasional dalam Isu HAM
Dalam pernyataan terbaru, Menteri HAM juga menyebutkan prestasi Indonesia sebagai presiden Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang merupakan pencapaian luar biasa. “Baru kali ini Indonesia memimpin dewan tersebut sejak merdeka,” katanya dengan bangga.
Pencapaian ini dianggap sebagai hasil dari kerja keras Kementerian HAM yang didukung oleh DPR. Menurutnya, ini menjadi momen penting bagi Indonesia untuk memantapkan posisinya di arena internasional terkait isu-isu hak asasi manusia.
“Kami berharap ini bukan hanya prestasi, tetapi juga menjadi dorongan untuk meningkatkan komitmen kami dalam melindungi hak asasi manusia di tanah air,” ucap Menteri dengan penuh harapan.







