CuaninAja
Beranda OTOMOTIF Petani Tidak Kehilangan Lahan Walau Menanam Mangrove Menurut Menhut

Petani Tidak Kehilangan Lahan Walau Menanam Mangrove Menurut Menhut

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, baru-baru ini memastikan para petani tambak tidak akan kehilangan lahan mereka jika mereka menanam pohon mangrove. Pernyataan ini muncul saat dialog dengan kelompok tani di Desa Liagu, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, di mana petani mengungkapkan kekhawatiran bahwa pemerintah akan mengambil kembali tambak mereka setelah penanaman mangrove berhasil.

Raja Juli menegaskan bahwa informasi yang beredar mengenai pemerintah yang akan mengambil alih lahan setelah mangrove tumbuh adalah hoaks. Dia menggarisbawahi bahwa pemerintah justru berkomitmen untuk memberikan kepastian hukum terkait lahan yang dikelola masyarakat.

Menteri menjelaskan pentingnya memberikan sertifikat tanah kepada para petani sebagai langkah perlindungan hukum. Dalam program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), mahasiwa akan mendapatkan sertifikat tanah secara massal agar memiliki kepastian atas lahan mereka.

Komitmen Pemerintah Dalam Memberikan Kepastian Hukum kepada Para Petani

Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa masyarakat dapat mengelola lahan dengan aman. Dalam diskusi tersebut, Raja Juli juga mengingatkan petani bahwa tanpa sertifikat yang sah, mereka berisiko kehilangan hak atas lahan mereka.

Dia menegaskan bahwa masalah yang sering kali muncul adalah ketidakpastian hukum, yang bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Dengan mendapatkan sertifikat, petani akan memiliki perlindungan yang lebih kuat terhadap lahan yang mereka miliki.

Raja Juli menekankan bahwa para petani harus proaktif dalam mengurus sertifikat tanah mereka. Dia siap untuk membantu petani dalam proses ini dengan melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi untuk mengidentifikasi dan mendukung pendaftaran tanah.

Praktik Pertanian Berkelanjutan dengan Penanaman Mangrove

Tahapan penting lainnya yang dibahas adalah adopsi praktik pertanian berkelanjutan, seperti penanaman mangrove. Raja Juli memberikan contoh nyata dari seorang petani, Herman, yang merasakan manfaat peningkatan produktivitas tambaknya setelah menanam mangrove.

Praktik ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga memberikan keuntungan langsung bagi petani. Dengan mangrove, proses lingkungan hidup seperti penyaringan karbon dapat berjalan optimal, sehingga membantu meningkatkan hasil tambak.

Raja Juli memandang bahwa contoh Herman seharusnya menjadi inspirasi bagi petani lain untuk mulai menanam mangrove di area tambak mereka. Hal ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian di daerah pesisir.

Pentingnya Kolaborasi dalam Penanaman Mangrove

Dalam acara penanaman mangrove sebagai bagian dari peringatan hari lahan basah sedunia, Raja Juli bersama beberapa pejabat dan masyarakat setempat terlibat langsung. Langkah tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi internasional sangat penting untuk mencapai keberhasilan dalam program penanaman mangrove.

Dengan melibatkan berbagai pihak, akan ada pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang dapat mendukung keberhasilan proyek-proyek seperti ini. Selain itu, dengan adanya dukungan dari pemerintah dan lembaga internasional, masyarakat akan merasa lebih termotivasi untuk berpartisipasi.

Raja Juli berharap bahwa inisiatif ini dapat menarik perhatian lebih banyak pihak untuk budaya melestarikan lingkungan, sekaligus memastikan kesejahteraan masyarakat. Penanaman mangrove bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir.

Komentar
Bagikan:

Iklan