Raksasa Migas Raup Keuntungan Karena Krisis Selat Hormuz, Simak Buktinya
Daftar isi:
Perang yang berkepanjangan antara AS-Israel dan Iran menyisakan dampak signifikan terhadap pasar energi global. Pertikaian ini justru membawa keuntungan luar biasa bagi perusahaan-perusahaan minyak besar dunia, yang mencatatkan laba kuartalan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, khususnya untuk periode April hingga Juni 2026.
Harga minyak internasional rata-rata melonjak mencapai sekitar US$ 96 per barel pada kuartal II-2026, meningkat hingga 45% dibanding tahun lalu. Kenaikan harga ini memberikan keuntungan besar bagi perusahaan yang tetap mampu menghasilkan serta mendistribusikan minyak di tengah ketegangan yang terjadi di Timur Tengah.
Exxon Mobil, sebagai salah satu raksasa migas asal Amerika Serikat, melaporkan laba mengesankan sebesar US$ 14,53 miliar pada kuartal II-2026. Angka ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025, menunjukkan betapa besarnya dampak situasi global bagi kinerja perusahaan-perusahaan tersebut.
Proyeksi Laba Perusahaan Energi Terbesar di Dunia
Chelis Chevron juga menunjukkan lonjakan laba yang signifikan, dari US$ 2,49 miliar ke US$ 12,07 miliar pada kuartal atau periode yang sama. CEO Exxon, Darren Woods, mengungkapkan bahwa perusahaan sudah siap menghadapi kondisi di pasar yang bergejolak, meskipun situasi ini tidak pernah diprediksi secara detail sebelumnya.
Di sisi lain, perusahaan energi Eropa tidak kalah berprestasi. Shell, sebagai salah satu nama besar dari Inggris, melaporkan laba kuartal II-2026 yang melonjak hingga tiga kali lipat dibanding tahun lalu, mencapai US$ 10,82 miliar. TotalEnergies dari Prancis juga mengumumkan laba lebih dari dua kali lipat, yakni sebesar US$ 5,44 miliar.
CEO TotalEnergies, Patrick Pouyanné, menjelaskan bahwa kondisi di Selat Hormuz tetap sangat fluktuatif dan seringkali menjadi arena pertempuran. Hal ini menambah ketidakpastian dalam industri energi, meskipun perusahaan-perusahaan ini mampu meraih laba yang sangat bermanfaat bagi mereka.
Dampak Perang terhadap Saudi Aramco dan Kinerja Lainnya
Kondisi yang dihadapi Saudi Aramco, sebagai perusahaan migas yang memiliki nilai tertinggi di dunia, jauh lebih kompleks. Karena banyak operasinya yang berada di dalam negeri dekat area konflik, dampak perang terhadap profitabilitas Aramco relatif lebih besar. Analis memperkirakan laba kuartal II-2026 Aramco hanya akan tumbuh sekitar 27% dibanding tahun sebelumnya.
Situasi semakin rumit setelah gencatan senjata antara AS dan Iran runtuh, ditambah dengan perebutan kontrol atas Selat Hormuz sebagai jalur utama akses ke Teluk Persia. Gelombang baru serangan di Laut Merah, yang menjadi rute alternatif pelayaran, juga memicu kenaikan harga energi kembali.
Setelah sempat mereda ke level harga USD 72 per barel di awal Juli, harga minyak mengalami lonjakan ke sekitar USD 87 per barel. Meskipun ada fluktuasi harga ini, bisnis pengolahan minyak mentah menjadi produk-produk bahan bakar lainnya tetap menguntungkan, terutama dengan kerusakan kilang di wilayah Teluk Persia dan Rusia.
Konsolidasi dan Strategi Perusahaan Energi di Tengah Ketidakpastian
Menurut Wood Mackenzie, sebuah firma konsultan energi, industri migas saat ini cenderung menahan kas ekstra alih-alih menginvestasikannya untuk produksi lebih lanjut. Belanja untuk produksi energi diperkirakan akan lebih rendah jika dibandingkan tahun 2025, mengingat ketidakpastian yang sempat berlarut-larut akibat konflik.
Meski demikian, CEO Chevron, Mike Wirth, menekankan belum terlihat tanda-tanda signifikan bahwa perang ini akan menekan permintaan energi dalam jangka panjang. Pendekatan bertahan ini mungkin menguntungkan dalam jangka pendek bagi perusahaan-perusahaan tersebut.
Namun, lonjakan laba besar-besaran ini menuai kritik, baik dari kalangan aktivis lingkungan, menteri keuangan di Eropa, maupun beberapa tokoh politik di AS. Tuduhan bahwa perusahaan energi bersifat serakah terhadap harga konsumen juga muncul, sejalan dengan situasi harga bensin yang meningkat.
Perspektif dan Harapan di Tengah Kondisi Global yang Berubah
Sementara banyak pihak mempertanyakan eksposur perusahaan energi di kawasan Teluk Persia, Exxon dan TotalEnergies tetap optimis. Mereka menganggap kebutuhan global akan sumber daya dari kawasan tersebut tidak akan surut, serta percaya bahwa Selat Hormuz akan tetap terbuka untuk perdagangan energi internasional.
Harapan ini menjadi pendorong penting bagi strategi investasi mereka di Doha, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Dalam pandangan perusahaan-perusahaan ini, pasar energi tetap memiliki potensi keuntungan meskipun terkendala oleh ketegangan yang ada.
Dari sudut pandang pasar, dinamika ini menunjukkan bahwa kondisi secara keseluruhan akan tetap bergejolak, dengan volatilitas yang bisa berpengaruh pada kebijakan energi dan harga dalam waktu dekat. Keputusan perusahaan-perusahaan tersebut untuk menahan kas, di sisi lain, akan memungkinkan mereka menghadapi tantangan yang tak terduga di masa depan.







