CuaninAja
Beranda OTOMOTIF Dedi Mulyadi Ungkap Alih Fungsi Lahan di Lokasi Longsor Cisarua

Dedi Mulyadi Ungkap Alih Fungsi Lahan di Lokasi Longsor Cisarua

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan adanya masalah serius terkait alih fungsi lahan yang mengakibatkan bencana tanah longsor di Cisarua. Locasi longsor tersebut terjadi di Kampung Pasir Kuning, di mana kebun yang sejatinya tidak pantas dikelola secara intensif telah mengubah bentuk lanskap alamnya.

Dalam kunjungan ke lokasi bencana, Dedi mencermati bahwa area tersebut sebelumnya merupakan kebun yang menggunakan plastik mulsa. Pengelolaan yang buruk ini terlihat dari pembukaan lahan hingga ke puncak bukit, memicu potensi bencana yang lebih besar.

Dedi Mulyadi mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem di daerah rawan bencana. Keberadaan kebun yang menggunakan teknik berbahaya memicu kerentanan tanah, membuat masyarakat rentan terhadap gangguan dari alam.

Alih Fungsi Lahan dan Dampaknya bagi Lingkungan

Proses alih fungsi lahan yang terus terjadi di daerah pegunungan sangat mengkhawatirkan. Dedi menekankan bahwa perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi kebun yang intensif secara langsung menciptakan risiko bencana. Hal ini jelas terlihat dari dampak longsor yang menimpa kawasan tersebut.

Kerusakan ekosistem akibat alih fungsi lahan tidak hanya mengancam penduduk setempat tetapi juga mengganggu kelestarian alam di sekitarnya. Pemrosesan lahan yang sembrono dapat mempercepat erosi tanah dan mengurangi daya dukung lingkungan.

Saat bencana terjadi, dampaknya sangat menghancurkan, seperti yang terjadi di Cisarua. Proses evakuasi pun menjadi rumit karena struktur tanah yang longsor dapat menyebabkan bahaya lebih lanjut bagi tim penyelamat.

Proses Evakuasi dan Tantangan yang Dihadapi

Saat turunnya hujan yang intens, bencana tanah longsor di Cisarua mengakibatkan banyak korban. Gubernur Dedi Mulyadi terjun langsung membantu proses evakuasi, menunjukkan komitmen yang kuat untuk menyelamatkan nyawa. Dalam situasi seperti ini, koordinasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi sangat penting.

Evakuasi korban menghadapi berbagai kendala, termasuk kondisi tanah yang tidak stabil. Dedi menjelaskan bahwa beberapa korban diduga tertimpa material longsor ketika mereka sedang beristirahat, menambah kesulitan dalam proses pencarian.

Setelah berjibaku lebih dari satu jam, tim berhasil mengangkat korban yang terjebak, meskipun situasi di lokasi masih sangat berbahaya. Proses penanganan bencana tidak hanya membutuhkan kecepatan, tetapi juga strategi yang baik agar para penyelamat tidak menjadi korban berikutnya.

Langkah Pemulihan dan Relokasi Masyarakat

Berdasarkan eksaminasi, Gubernur Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa kawasan di sekitar lokasi longsor tidak lagi aman untuk dihuni. Masyarakat diimbau untuk segera direlokasi ke tempat yang lebih aman, mengingat potensi terjadinya bencana susulan yang tinggi. Proses ini harus dilakukan dalam waktu dekat untuk menghindari risiko lebih lanjut.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat merencanakan pemulihan lingkungan dalam skala besar. Dedi menekankan pentingnya untuk mengembalikan fungsi ekologis dengan menghijaukan kembali area tersebut, sehingga potensi bencana dapat berkurang di masa yang akan datang.

Sebagai bentuk perhatian kepada keluarga korban, pemerintah juga memberikan santunan sebesar Rp 25 juta untuk setiap kepala keluarga yang anggotanya terdampak. Ini adalah langkah awal dalam upaya pemulihan dan dukungan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dan orang-orang terkasih.

Komentar
Bagikan:

Iklan