Setelah Imlek, Klenteng Toasebio Akan Gelar Lok Thung di Perayaan Cap Go Meh
Daftar isi:
loading…
Potret suasana ibadah di Kelenteng Toasebio. Foto: Niko Prayoga.
JAKARTA – Usai merayakan Imlek 2026 , Vihara Dharma Jaya atau Kelenteng Toasebio sudah menyiapkan rencana untuk perayaan Cap Go Meh dengan gelaran Lok Thung pada 8 Maret 2026 mendatang.
Ketua Harian Vihara Dharma Jaya atau Kelenteng Toasebio, Tjandra Santoso mengatakan bahwa Lok Thung atau kerap dikenal dengan praktik Tangsin sendiri merupakan tradisi berupa ritual keagamaan khas dengan melibatkan peran sosok yang dipercaya menjadi mediator bagi roh suci untuk membantu umat.
“Loktung itu orang yang dimasuki roh suci untuk membantu umat-umat yang membutuhkan bantuan. Contohnya misalkan dia sedang sakit, dia curhat dengan kita, kita bilangnya itu pelayanan Tangsin,” kata Tjandra saat diwawancarai melalui saluran telepon, Selasa (17/2/2026).
Baca Juga : Rayakan Imlek, Ratusan Umat Berdatangan di Kelenteng Toasebio Sejak Pagi
Ia menjelaskan bahwa dalam Lok Thung, akan ada satu mediator yang dirasuki oleh roh suci yang akan memberikan saran dan kesembuhan bagi para umat yang sedang menghadapi permasalahan. Bentuk penanganan yang disesuaikan dengan kebutuhan umat.
Nantinya, solusi yang diberikan bisa berupa media air, doa-doa khusus, hingga saran tindakan tertentu yang harus dilakukan demi mencapai kesembuhan atau ketenangan batin.
Perayaan Cap Go Meh yang dilakukan di Vihara Dharma Jaya atau Kelenteng Toasebio menjadi bagian dari tradisi yang sudah berlangsung lama dan memiliki nilai spiritual yang dalam bagi komunitas Tionghoa di Indonesia. Di dalam sejarahnya, Cap Go Meh dirayakan pada hari ke-15 bulan pertama dalam kalender lunar, menandai akhir dari perayaan Tahun Baru Imlek. Biasanya, perayaan ini diramaikan dengan berbagai kegiatan budaya dan ritual, termasuk prosesi berbagi makanan dan pengajian keagamaan.
Tradisi ini juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul, berbagi kebahagiaan, serta memperkuat rasa kebersamaan dalam komunitas. Di Kelenteng Toasebio, antusiasme umat terlihat begitu jelas, dengan banyaknya orang yang datang untuk mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan.
Budaya dan kebiasaan yang diturunkan dari generasi ke generasi menjadi sangat penting dalam perayaan Cap Go Meh. Selain menyambut akhir perayaan Imlek, masyarakat juga mengingat nilai-nilai moral yang terkandung dalam setiap kegiatan. Ini adalah saat yang tepat untuk merenungkan kembali perjalanan hidup dan berbagi rasa syukur atas berkat yang telah diterima.
Proses dan Makna dari Lok Thung dalam Perayaan Cap Go Meh
Lok Thung sendiri merupakan sebuah ritual yang dipercaya dapat memberikan penghiburan dan penyembuhan bagi mereka yang membutuhkan. Dalam praktiknya, seorang mediator akan mengundang roh suci untuk datang dan membantu umat yang hadir. Proses ini ditandai dengan berbagai macam tindakan yang dilakukan, termasuk penyerahan diri oleh mediator kepada kekuatan spiritual.
Ritual ini bukan hanya sekadar prosesi, tetapi melibatkan keyakinan yang mendalam dari para peserta. Mereka percaya bahwa peran mediator sangat penting dalam menghubungkan dunia manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi. Hal ini menciptakan pengalaman spiritual yang kuat bagi umat yang hadir dan mengikuti ritual tersebut.
Melalui Lok Thung, banyak umat mendapatkan pencerahan dan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Dalam tradisi ini, setiap individu diberikan kesempatan untuk bertanya dan menggali lebih dalam mengenai masalah yang sedang dihadapi. Sebuah proses yang dipandang sebagai langkah menuju kesembuhan dan ketenangan jiwa.
Selama ritual, mediator akan memberikan saran yang spesifik berdasarkan kebutuhan masing-masing individu. Tindakan bisa bervariasi, mulai dari pengobatan herbal hingga penguatan spiritual melalui doa dan meditasi. Ini menunjukkan bahwa ritual Lok Thung bukan hanya sekadar tradisi, namun juga merupakan bentuk dukungan bagi mereka yang memerlukan.
Banyak umat yang kembali lagi untuk mengikuti ritual ini, mengingat manfaat spiritual dan emosional yang mereka rasakan setelahnya. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa Lok Thung tetap dipertahankan dan dilakukan setiap tahun dalam rangkaian perayaan Cap Go Meh.
Antusiasme dan Partisipasi Masyarakat dalam Perayaan Cap Go Meh
Antusiasme masyarakat dalam perayaan Cap Go Meh di Vihara Dharma Jaya menunjukkan betapa pentingnya ritual ini dalam menjalin solidaritas. Masyarakat yang datang untuk beribadah tidak hanya datang dari kalangan yang sama, tetapi juga dari latar belakang yang beragam. Ini mencerminkan persatuan dalam keberagaman yang menjadi fondasi kuat bagi komunitas di sekitar kelenteng.
Kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya tradisi dan budaya, yang sering kali terpinggirkan oleh perkembangan zaman. Melalui perayaan seperti Cap Go Meh, masyarakat diingatkan akan akar budaya mereka serta pentingnya menghormati dan melestarikannya.
Di sepanjang perayaan, berbagai kegiatan digelar mulai dari pertunjukan seni, lomba, hingga bazar makanan. Semua ini memberikan warna tersendiri dan menjadikan Cap Go Meh lebih daripada sekadar perayaan spiritual, tetapi juga ajang untuk mengekspresikan budaya dan identitas yang kuat dalam komunitas.
Kehadiran masyarakat yang beragam juga memperlihatkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam perayaan ini dapat diterima secara luas. Ini membuka ruang bagi dialog dan interaksi antara berbagai kelompok dalam masyarakat, yang pada gilirannya akan memperkuat hubungan antar individu.
Perayaan Cap Go Meh adalah momen yang dinanti-nantikan karena tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga memperkukuh kebersamaan dan silaturahmi yang kokoh di antara anggota komunitas. Hal inilah yang membuat setiap tahunnya, perayaan ini selalu mendapatkan perhatian dan partisipasi yang tinggi.
Ritual yang Menghargai Warisan Budaya dan Spiritual
Kelenteng Toasebio bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan budaya yang dinamis di tengah kehidupan masyarakat. Dengan diadakannya perayaan Cap Go Meh, masyarakat diajak untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur yang terkandung dalam warisan budaya mereka. Ritual-ritual yang dilakukan tidak hanya sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai medium untuk menyebarkan pesan-pesan positif kepada masyarakat luas.
Melalui pelaksanaan ritual yang berkesinambungan, Kelenteng Toasebio berupaya untuk mempertahankan nilai-nilai dan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Terlepas dari tantangan zaman modern, mereka berkomitmen untuk menjaga agar warisan ini tetap hidup dan relevan.
Perayaan Cap Go Meh dengan berbagai ritualnya, termasuk Lok Thung, menunjukkan bagaimana kebudayaan dapat mengintegrasikan berbagai aspek kehidupan manusia. Ini membuktikan bahwa meskipun ada perbedaan, semua orang dapat berkumpul dalam semangat yang sama untuk merayakan kehidupan dan meneguhkan saling pengertian.
Tradisi yang dipertahankan selama bertahun-tahun ini bukan hanya sebuah kenangan, tetapi sebuah simbol harapan yang mengajak seluruh umat untuk selalu bersatu dalam keragaman. Setiap individu diingatkan untuk menghargai bukan hanya kepercayaan mereka, tetapi juga kepercayaan orang lain.
Pada akhirnya, perayaan Cap Go Meh lebih dari sekadar acara ritual. Ini adalah pengingat bagi setiap orang akan pentingnya komunitas, harapan, serta saling menghormati dan mendukung satu sama lain dalam kehidupan yang penuh tantangan. Dengan demikian, semangat positif ini diharapkan dapat terus menyebar di masyarakat, menjadikan perayaan ini tidak hanya bermakna secara spiritual, tetapi juga sosial dan budaya.







