CuaninAja
Beranda TECH HACK IHSG Diperkirakan Tembus 10000 pada 2026, Saham Ini Akan Jadi Penopang

IHSG Diperkirakan Tembus 10000 pada 2026, Saham Ini Akan Jadi Penopang

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sambut optimisme menjelang tahun 2026. Proyeksi yang menunjukkan kemungkinan pergerakan IHSG dalam kisaran 7.500 hingga 10.000 memberikan harapan baru bagi investor di pasar modal Indonesia.

Praktisi pasar modal, Hans Kwee, percaya bahwa IHSG memiliki potensi untuk menembus angka 10.000. Keyakinan ini didasarkan pada kinerja sejumlah emiten unggulan yang berasal dari berbagai sektor, seperti konsumsi dan komoditas.

“Kami yakin sekarang adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi,” kata Hans Kwee dalam sesi edukasi pasar pada 23 Januari 2026. Emiten seperti CMRY, MYOR, dan AMRT disebut memiliki prospek cerah untuk mendukung pertumbuhan IHSG.

Selain sektor konsumsi, sektor logam dan tambang juga menarik perhatian. Hans Kwee menekankan bahwa sahamsaham seperti ANTM dan BRMS memiliki potensi pertumbuhan yang signifikan. Sektor batu bara pun menunjukkan harapan baru, dengan perusahaan-perusahaan seperti ITMG dan PTBA mengalami pergerakan positif.

Sementara itu, saham-saham berkapitalisasi besar seperti BCA dan Telkom diakui masih menjadi pilar penting dalam menopang IHSG. Dengan prospek yang menjanjikan ini, investor dapat meraih keuntungan jangka panjang di masa mendatang.

Mengapa IHSG Mampu Menjaga Performa Positif di Tengah Ketidakpastian?

Salah satu faktor utama yang mendukung IHSG adalah karakter pasar yang semakin mandiri. Berbeda dari sebelumnya, pasar kini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada arus dana asing. Meskipun ada aksi jual yang dilakukan oleh investor asing, IHSG tetap dapat bertahan dan menunjukkan kemandirian.

Hans juga mengungkapkan bahwa sektor properti mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih sepenuhnya. Diharapkan sektor ini dapat mulai bangkit pada tahun 2027, menjadi pilihan menarik bagi investor yang mempertimbangkan strategi investasi jangka panjang.

Secara keseluruhan, meski terdapat tantangan, IHSG tetap menunjukkan performa yang relatif stabil. Bahkan dalam situasi pasar yang bergejolak, indeks ini berhasil menjaga daya tarik bagi investor domestik.

Analisis Pergerakan IHSG di Tengah Tanda-tanda Pemulihan Ekonomi

Di akhir perdagangan 23 Januari 2026, IHSG ditutup dengan penurunan 0,46%, meski mengalami tekanan sebelumnya. Indeks ditutup pada level 8.951,01 setelah berada dalam rentang 8.837,83 hingga 9.039,67 selama sesi perdagangan.

Dalam hari tersebut, tercatat 521 saham mengalami penurunan, sedangkan 200 saham mengalami kenaikan, dan 237 saham tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 31,87 triliun, menunjukkan minat investor yang masih tinggi meski dihadapkan pada penjualan besar-besaran.

Sektor teknologi menunjukkan performa baik dengan kenaikan 1,38%, menjadi salah satu penopang utama IHSG. Sementara itu, banyak sektor lainnya mengalami penurunan, seperti bahan baku dan utilitas yang tertekan signifikan.

Saham yang Mendorong Penguatan IHSG di Tengah Tren Yang Beragam

Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham mampu membantu IHSG untuk memangkas penurunan. MORA Telematika Indonesia, misalnya, mengalami kenaikan signifikan hingga 8,1%, berkontribusi terhadap tren positif indeks.

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga menunjukkan daya tariknya dengan kenaikan 1,05%. Kontribusinya terhadap IHSG sangat berarti, menambah kekuatan dari sektor perbankan dalam mendorong indeks naik.

Saham BUMI, setelah mengalami pergerakan negatif dalam dua hari sebelumnya, memberikan kontribusi positif dengan kenaikan 3,45%. Meskipun ada tantangan, saham ini menunjukkan bahwa minat investor kembali pulih, mendukung indeks di tengah koreksi pasar.

Pada saat yang sama, emiten dari Prajogo Pangestu menunjukkan karakter berbeda dengan ikut membebani IHSG. Beberapa saham dari grup ini, seperti Petrosea dan Chandra Asri, terpantau mengalami penurunan yang signifikan, menciptakan dampak negatif pada kinerja indeks secara keseluruhan.

Dengan kondisi pasar yang terus berubah, penting bagi investor untuk memahami potensi dari berbagai emiten. Peluang dan risiko harus ditimbang dengan cermat sebelum mengambil keputusan untuk berinvestasi.

Komentar
Bagikan:

Iklan