Banjir 3,5 Meter di Tangerang Picu Warga Terserang Penyakit
Daftar isi:
Banjir yang melanda permukiman warga di Perumahan Periuk Damai, Kecamatan Periuk, saat ini masih menjadi perhatian serius. Sebuah bencana alam yang terjadi pada Minggu pagi telah mengakibatkan dampak yang luas bagi ribuan penduduk di kawasan tersebut.
Ketinggian air yang mencapai hingga empat meter di beberapa titik membuat aktivitas sehari-hari terhambat total. Banyak warga yang mengalami keluhan kesehatan, seperti gatal-gatal, luka akibat terendam air, dan keluhan pegal-pegal akibat kelelahan saat berusaha menyelamatkan barang-barang yang ada di dalam rumah.
Salah satu warga, Jungkir Salim, berbagi pengalamannya. Ia mengungkapkan bahwa air sempat meninggi hingga 4 meter sebelum mulai surut sekitar 50 sentimeter setelahnya.
“Badan saya gatal-gatal karena air banjir, ditambah lagi luka-luka akibat terpaksa nyebur ke air yang kotor ini. Semua itu ditambah pegal-pegal karena harus memindahkan barang dari rumah,” tambah Jungkir pada Minggu lalu.
Menurut Jungkir, kejadian banjir ini disebabkan oleh jebolnya tanggul di sekitar permukiman yang hingga kini belum mendapatkan perbaikan permanen. Situasi ini tentu membuat warga cemas jika banjir serupa akan terjadi kembali di masa mendatang.
Dampak Banjir terhadap Kesehatan Warga di Periuk
Kondisi kesehatan warga yang terpaksa terendam banjir tidak bisa dianggap remeh. Banyak yang melaporkan munculnya berbagai keluhan, seperti gatal-gatal dan luka-luka di kulit.
Warga lainnya, yang bernama Reo, mengungkapkan betapa parahnya kondisi di dalam rumahnya. Dengan ketinggian air yang mencapai tiga hingga empat meter, dia merasa terjebak dalam lingkaran bencana yang sulit diprediksi.
“Sampai saat ini, air di dalam rumah saya masih berkisar antara 3,5 meter. Meskipun sudah mulai menyusut, situasi ini membuat kami sangat sulit beraktivitas,” jelas Reo.
Dari perkataan warga yang lain, tampak bahwa banjir semacam ini mengulang setiap musim hujan, menandakan perlunya tindakan dini dalam penanganan bencana. Mereka berharap pemerintah bisa segera memperbaiki sistem pembuangan air serta tanggul yang jebol.
Reo juga menekankan pentingnya perhatian terhadap warga lanjut usia yang perlu perhatian lebih dalam situasi seperti ini. “Kami berharap ada langkah konkret untuk perbaikan infrastruktur agar kejadian serupa tidak terulang,” jelasnya.
Pentingnya Ketersediaan Logistik bagi Pengungsi
Tidak hanya masalah kesehatan dan kerugian material, kebutuhan logistik menjadi tantangan besar bagi warga yang terdampak banjir. Banyak dari mereka yang tidak sempat menyelamatkan barang-barang penting ketika situasi mulai memburuk.
“Kami sangat membutuhkan bantuan logistik, mulai dari makanan hingga pakaian karena banyak barang yang tidak sempat kami bawa ketika banjir tiba-tiba datang,” ujar Reo.
Saat ini, perlunya tempat tinggal sementara yang layak untuk para pengungsi juga menjadi perhatian. Sebagian warga kini memilih tinggal di rumah bertingkat, sementara yang lainnya mengungsi ke lokasi-lokasi yang lebih aman, seperti masjid atau rumah kerabat.
Data dari RW setempat menunjukkan bahwa terdapat sekitar 286 kepala keluarga atau lebih dari 862 jiwa yang terdampak, dengan jumlah warga lanjut usia mencapai 136 orang. Hal ini menuntut perhatian khusus dari pihak berwenang.
Selain itu, warga menyampaikan harapan agar ada penanganan cepat dalam distribusi bantuan logistik dan layanan kesehatan, terutama bagi yang paling rentan.
Harapan Warga untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Keinginan warga untuk memperbaiki situasi ini sangat kuat. Mereka berharap agar pemerintah tidak hanya melakukan perbaikan sementara, tetapi juga mengambil langkah-langkah yang lebih permanen dalam penanganan banjir di kecamatan mereka.
“Semoga ke depan ada pembaruan tanggul dan sistem pengendalian banjir yang lebih efektif, sehingga kami tidak harus mengalami bencana seperti ini setiap tahun,” ucapan harapan Reo mencerminkan suara mayoritas masyarakat.
Warga juga menyatakan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam perbaikan infrastruktur, agar masyarakat merasa memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan. Dengan demikian, mereka bisa mencegah banjir di masa mendatang.
Dari pengalaman dan kesulitan yang dihadapi selama banjir ini, terbangun solidaritas antarwarga. Mereka saling membantu dan berbagi informasi untuk menghadapi situasi ini bersama-sama.
Kini, warga Periuk Damai menunggu harapan baru di tengah derita yang dialami. Penyelesaian masalah ini bukan hanya menunggu tindakan pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat untuk mencapai solusi yang berkelanjutan.







