Rumah Pendeta Hindu di Bali Dibobol, Mahkota Suci dan Emas Hilang
Daftar isi:
Tiga rumah pendeta Hindu di Banjar Dinas Triwangsa, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali, baru-baru ini menjadi sasaran pencurian. Dalam insiden yang terjadi pada Jumat (5/6) tersebut, pelaku diduga berhasil mencuri mahkota suci dan perhiasan emas yang digunakan dalam ritual keagamaan.
Pihak kepolisian mengkonfirmasi bahwa laporan atas peristiwa ini telah diterima dan penyelidikan sedang berlangsung. Menurut Kasi Humas Polres Karangasem, Ipda I Nengah Artono, kejadian ini berlangsung di beberapa lokasi berbeda namun berdekatan satu sama lain.
Awalnya, pencurian pertama kali terdeteksi di rumah Ida Pedanda Istri Ketut Jelantik yang berada di Griya Dauh. Korban yang pertama kali menyadari kehilangan tersebut kembali ke rumah dan menemukan wadah penyimpanan perhiasan telah bergeser dari tempat semula.
Mengungkap Kronologi Pencurian di Griya Dauh
Setelah melakukan pengecekan, Ida Pedanda Istri Ketut Jelantik mendapati bahwa perhiasan emas dan perlengkapan sakralnya hilang. Kejadian ini berlangsung sekitar pukul 09.00 WITA saat korban sedang mencari bunga untuk upacara. Menariknya, meskipun sejumlah barang berharga hilang, pelaku tidak mengambil uang tunai yang ada di tempat tersebut.
Setelah melaporkan kejadian tersebut kepada keluarga dan aparat setempat, selanjutnya laporan diteruskan ke Polsek Bebandem. Hal ini menandai awal dari serangkaian peristiwa pencurian lainnya yang dialami tempat-tempat di sekitar lokasi tersebut.
Tak lama setelah itu, keluarga di Griya Demung merasa khawatir dan mulai memeriksa mahkota suci mereka. Ketika melakukan pengecekan pada pukul 10.30 WITA, mereka juga menemukan bahwa mahkota mereka telah hilang dari tempat penyimpanan.
Kedatangan Polisi dan Penyelidikan Awal
Polisi yang tiba di lokasi menemukan tali pengikat wadah penyimpanan dalam kondisi rusak, mengindikasikan bahwa pelaku mungkin telah memutus tali tersebut untuk bisa mengambil isinya. Ini menunjukkan bahwa modus operandi pelaku mungkin berbeda antara satu lokasi dengan lokasi lainnya.
Selanjutnya, Griya Kawan pun menjadi lokasi pencurian berikutnya di mana keluarga Ida Pedanda Istri Ketut Gianyar menduga bahwa mahkota suci mereka juga telah dicuri. Awalnya, mereka berpikir bahwa mahkota tersebut sedang dalam perbaikan, tetapi setelah menghubungi pihak yang bersangkutan, diketahui bahwa benda sakral itu telah dikembalikan ke lokasi.
Polisi berusaha mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi di masing-masing lokasi dan memastikan setiap detail dari setiap peristiwa. Kombinasi dari laporan tersebut menjadi kunci untuk merangkai kembali kronologi yang terjadi, termasuk kondisi barang-barang yang hilang.
Estimasi Kerugian dan Upaya Penyelidikan Berlanjut
Menurut keterangan dari Artono, total kerugian dari ketiga pencurian tersebut diperkirakan mencapai Rp500 juta. Kerugian terbesar di Griya Dauh, di mana seperangkat perhiasan emas dan perlengkapan sakral hilang dengan nilai sekitar Rp150 juta.
Di Griya Demung, dua mahkota suci yang hilang masing-masing ditaksir bernilai Rp200 juta, sementara di Griya Kawan ditaksir sekitar Rp150 juta. Ini menjadi beban berat tidak hanya dari segi finansial, tetapi juga spiritual bagi komunitas yang terkena dampak pencurian ini.
Polisi sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan mengolah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan bukti-bukti. Mereka mengejar informasi lebih lanjut untuk mengungkap identitas pelaku dan menemukan barang-barang yang hilang.
Dari penyelidikan ini, pihak kepolisian menyatakan komitmennya untuk mengungkap kasus ini secepat mungkin. Dengan kerja sama antara aparat dan masyarakat setempat, diharapkan solusi bisa ditemukan sehingga kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.








