CuaninAja
Beranda HIBURAN Anak Macan, Kisah Perjalanan Hidup Amar Haikal di Masa Kecil

Anak Macan, Kisah Perjalanan Hidup Amar Haikal di Masa Kecil

Sebuah film pendek Indonesia berjudul “Anak Macan (My Plastic Mother)” baru-baru ini meraih prestasi gemilang dengan memenangkan kompetisi Film Pendek Internasional Terbaik di Flickerfest International Short Film Festival 2026 yang diadakan di Australia. Kesuksesan ini bukan hanya menegaskan kualitas sinematik film tersebut, tetapi juga menyoroti cerita mendalam yang diangkat dari pengalaman pribadi sang sutradara, Amar Haikal.

Film ini merupakan hasil kerja keras Amar dan rekan-rekannya dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di bawah bimbingan sutradara berpengalaman, Riri Riza. Keputusan untuk memilih lokasi di tempat pembuangan akhir Bantargebang dan menggambarkan kisah seorang anak bernama Eki menambah dimensi emosional pada film ini.

Menelusuri Jalan Cerita dari Film “Anak Macan”

“Cerita ini mengajak penonton untuk merenungkan tentang kehilangan, identitas, dan bagaimana seorang anak terbentuk oleh lingkungan sekitarnya,” Amar menambahkan. Setiap elemen dalam film ini, dari naskah hingga pemilihan lokasi, mencerminkan kenyataan pahit yang dialami banyak anak di lingkungan yang kurang beruntung.

Melalui perjalanan Eki, Amar menggali tema tentang menjadi diri sendiri versus memenuhi ekspektasi lingkungan. Ini bukan sekadar narasi, tetapi juga merupakan perjalanan penyembuhan bagi Amar, yang berusaha memahami masa lalunya.

Tantangan dan Kesulitan dalam Proses Produksi

Produksi di lokasi sekelas Bantargebang ternyata penuh tantangan. Cuaca yang tidak menentu, seperti hujan deras dan angin kencang, menjadi salah satu kendala utama yang harus dihadapi oleh Amar dan tim. Mereka juga harus berhadapan dengan potensi longsor di lokasi, yang jelas membahayakan keselamatan mereka.

“Kondisi lapangan yang sulit memaksa kami untuk beradaptasi dengan cepat,” kata Amar. Beberapa bagian naskah harus disesuaikan secara langsung di lapangan, yang memberikan nuansa organik pada film, membuat “Anak Macan” tampak lebih hidup dan realistis.”

Amar pun merasa bahwa setiap tantangan yang dijumpai selama proses produksi menambah kekuatan cerita. “Film ini ternyata mampu menciptakan pengalaman bagi penonton yang lebih mendalam,” ujarnya.

Pencapaian dan Rencana ke Depan untuk “Anak Macan”

Setelah mendapatkan Nominasi Film Cerita Pendek Terbaik di Piala Citra FFI 2025, “Anak Macan” berhasil meraih penghargaan di Flickerfest, menempatkannya dalam jajaran film pendek berkualitas internasional. Prestasi ini menambah semangat bagi Amar untuk membagikan kisah Eki kepada lebih banyak orang.

“Kami ingin membawa film ini kembali ke Jakarta dan menayangkannya di beberapa lokasi. Ada rencana untuk mengadakan beberapa screening, dan kita berharap bisa mengunjungi kota-kota lain di Indonesia juga,” kata Amar.

Film ini bukan hanya sekedar hiburan, tetapi juga merupakan jendela untuk memperlihatkan realitas kehidupan anak-anak di daerah termarjinalkan. Kota Jakarta, yang menjadi latar belakang cerita, menjadi bagian integral dari perjalanan “Anak Macan.”

Makna di Balik Film dan Budaya Konsumerisme

Kisah yang diangkat dalam “Anak Macan” bukan hanya kisah Eki, tetapi juga merupakan cerminan budaya konsumerisme yang melanda masyarakat urban seperti Jakarta. Amar berharap film ini bisa memicu diskusi mendalam tentang bagaimana perilaku konsumtif dapat mempengaruhi generasi muda.

“Film kami berupaya mempertanyakan bagaimana masyarakat melihat masalah ini,” ungkap Amar. “Kami ingin mengajak penonton untuk berfikir lebih kritis,” lanjutnya.

Dengan pengharapan agar film ini dapat diterima dengan baik di Jakarta, Amar merasa optimis. “Kami percaya bahwa penonton di Jakarta siap untuk merenungkan tema-tema yang diangkat dalam film ini,” ujarnya kembali.

“Anak Macan” adalah sebuah karya yang tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga membawa pesan moral yang mendalam. Dengan pendekatan yang mengajak penonton untuk berpikir dan merenungkan, Amar Haikal berhasil menciptakan film yang layak untuk diperhatikan dan diapresiasi.

Di akhir, Amar menekankan pentingnya menampilkan pengalaman ini kepada publik. “Kami berharap film ini bisa menjadi ruang bagi banyak orang untuk memahami tantangan yang dihadapi oleh anak-anak di pinggiran kota,” ungkapnya.

Komentar
Bagikan:

Iklan