BI Dinilai Kurang Peduli Terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Destry Berikan Pendapat!
Daftar isi:
Gubernur sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa fokus utama bank sentral tidak hanya pada stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi. Ia menjelaskan bahwa Bank Indonesia juga berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional agar tetap berkelanjutan dan inklusif.
Destry mengklarifikasi stigma yang berkembang bahwa BI kurang perhatian terhadap pertumbuhan ekonomi. Dalam sesi media yang diadakan secara daring, ia mengungkapkan komitmen bank sentral untuk tetap sebagai penggerak ekonomi, selaras dengan upaya stabilisasi.
Dalam pandangannya, menjaga stabilitas dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi harus dilakukan melalui lebih banyak instrumen, tidak hanya kebijakan moneter yang bersifat konvensional. Oleh karena itu, Bank Indonesia menggunakan kebijakan makroprudensial serta peningkatan sistem pembayaran sebagai langkah strategis yang holistic.
Salah satu langkah konkret yang diambil adalah memberikan insentif likuiditas kepada perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit, khususnya kepada sektor-sektor prioritas. Usaha ini termasuk dukungan terhadap pelaku UMKM dan masyarakat berpenghasilan rendah.
“Dalam hal ini, kami mengambil tindakan dengan mengurangi Giro Wajib Minimum (GWM) bagi bank yang fokus menyalurkan kredit kepada sektor prioritas,” ujar Destry. Kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat sektor-sektor yang vital bagi perekonomian.
Pentingnya Kebijakan Moneter dan Makroprudensial untuk Stabilitas Ekonomi
Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dilakukan dalam bulan Juli, Bank Indonesia merumuskan serangkaian kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Kebijakan-kebijakan ini dirancang untuk tidak hanya menjamin stabilitas moneter, tetapi juga mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing dengan dengan melakukan transaksi yang beragam, seperti spot transaction serta Non-Deliverable Forward (NDF). Ini bertujuan untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil selama menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.
Menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang juga menjadi prioritas utama, di mana bank sentral memastikan bahwa inflasi tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1% untuk periode 2026-2027. Semua langkah ini diambil untuk memastikan bahwa perekonomian dapat berjalan dengan baik meskipun dalam kondisi yang tidak menentu.
Inisiatif untuk Meningkatkan Aliran Modal Asing dalam Ekonomi
Selain itu, Bank Indonesia memperkenalkan berbagai insentif untuk menarik aliran modal asing. Ini termasuk peningkatan insentif transaksi hedging dan pengembangan kerjasama transaksional dengan negara mitra menggunakan Local Currency Transaction (LCT).
Dengan memperbesar insentif untuk Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), BI berusaha mengurangi segmen likuiditas di pasar uang. Kebijakan baru ini berlaku efektif mulai September 2026, diharapkan mampu meningkatkan likuiditas perbankan secara menyeluruh.
Langkah lain yang diambil adalah memperkuat pembiayaan untuk sektor produktif. BI telah memperkenalkan skema baru pada Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) yang dijadwalkan berlaku mulai Oktober 2026. Ini menunjukkan langkah nyata untuk menjangkau individu dan usaha yang biasanya tidak memiliki akses ke pembiayaan.
Digitalisasi Sistem Pembayaran untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Kebijakan Bank Indonesia juga mengarah pada digitalisasi sistem pembayaran. Bank sentral berkomitmen untuk mempercepat adopsi teknologi di bidang ini, termasuk memperluas penggunaan QRIS dan berinovasi melalui program pengembangan digital.
Kerja sama internasional melalui QRIS antarnegara diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam ranah sistem pembayaran global. Ini adalah bagian dari upaya memperkuat ekonomi masyarakat melalui pengembangan inovasi yang dapat meningkatkan daya beli.
Dengan melaksanakan serangkaian kebijakan tersebut, Bank Indonesia berkomitmen untuk memelihara keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Keberadaan kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan iklim ekonomi yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Melalui kebijakan-kebijakan yang telah diterapkan, BI menunjukkan kedalaman analisis dan strategi yang jelas. Di bawah ini adalah rincian kebijakan yang telah dikeluarkan dalam RDG bulan Juli 2026:
1. Memperkuat implementasi kebijakan moneter untuk stabilisasi nilai tukar dan inflasi, termasuk strategi intervensi di pasar valuta asing.
2. Membangun aliran investasi asing melalui pengurangan premi dan insentif bagi transaksi hedging. Kami berharap langkah-langkah ini mendatangkan lebih banyak modal asing guna memajukan ekonomi nasional.
3. Memperbaiki kebijakan likuiditas agar lebih merata, mengatasi masalah segmentasi, dan mendorong penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas.
Kebijakan-kebijakan tersebut tidak hanya mencakup aspek stabilitas, tetapi juga inklusivitas yang merangkul semua sektor. Ini menjadi jaminan bagi pertumbuhan yang berkelanjutan, memungkinkan semua lapisan masyarakat berkontribusi dalam kemajuan ekonomi.
Dengan berbagai langkah strategis dan terintegrasi tersebut, Bank Indonesia berusaha keras untuk menghasilkan dampak positif bagi perekonomian nasional. Responsibilitas dalam kebijakan tidak hanya penting, tetapi krusial untuk mencapai tujuan bersama.








