Bisakah Cinta Ini Diterjemahkan?
Daftar isi:
Drama Korea “Can This Love Be Translated?” menyajikan sinematografi yang memukau, namun menyimpan sejumlah kelemahan dalam pengembangan karakter. Meskipun terdapat potensi cerita yang menarik, fokus berlebihan pada karakter laki-laki membuat karakter perempuan kurang berkembang dan terabaikan.
Penulis Hong Jung-eun dan Hong Mi-ran ingin menawarkan narasi sederhana yang menyoroti pentingnya komunikasi dalam hubungan romantis. Namun, seiring berjalannya waktu, cerita mulai kehilangan arah dan kegamangan muncul dalam penghadiran karakter utama perempuan, Cha Mu-hee.
Dalam drama ini, Mu-hee, yang diperankan oleh Go Youn-jung, mengalami masalah psikologis yang mendalam yang menciptakan kepribadian ganda bernama Do Ra-mi. Sayangnya, pendekatan penulis terhadap gangguan identitas disosiatif ini terlalu sederhana dan tidak mencerminkan kompleksitas masalah tersebut.
Kurangnya Pengembangan Karakter Perempuan dalam Drama
Masalah utama yang dihadapi drama ini adalah minimnya ruang untuk menggambarkan latar belakang dan pengalaman hidup Mu-hee. Momen-momen penting tentang perjalanan emosionalnya sering kali terlewatkan atau dipresentasikan dengan cara yang terburu-buru.
Dengan adanya karakter Do Ra-mi, konflik dalam cerita terasa tidak mendalam. Dia muncul seperti solusi instan untuk menghadapi berbagai situasi pelik yang dihadapi Mu-hee, tanpa adanya penjelasan yang matang tentang psikologi karakternya.
Hal ini menjadi kontroversi karena seharusnya perkembangan karakter dapat dihadirkan dengan lebih realistis, mengingat tema berat gangguan identitas disosiatif yang sepatutnya mendapat perlakuan lebih serius dalam penulisan naskah.
Perbandingan Antara Karakter Pria dan Wanita
Di sisi lain, karakter Joo Ho-jin yang diperankan oleh Kim Seon-ho mendapat sorotan yang berbeda. Penokohan Ho-jin terasa lebih kaya dengan latar belakang yang mendukung pertumbuhannya dari sosok yang kaku menjadi sosok yang lebih peka.
Pembahasan mendalam mengenai kehidupan keluarga Ho-jin memberi dimensi baru bagi karakternya, menghasilkan nuansa kedewasaan dan kedalaman yang tidak kita temukan pada Mu-hee. Interaksi antara dia dan karakter lain juga terasa lebih realistis dan terperinci.
Meskipun Ho-jin diciptakan dengan kepribadian yang ideal, hal ini justru membawa ketimpangan dalam karakterisasi. Pendekatan ini terlihat menempatkan karakter pria di atas karakter wanita, memperlihatkan kecenderungan pengkultusan pada tipe karakter tertentu.
Peran Do Ra-mi dalam Penyampaian Cerita
Keberadaan Do Ra-mi menjadi elemen yang kontroversial dalam drama ini. Munculnya kepribadian lain Mu-hee tampaknya tidak cukup kuat untuk mendukung penceritaan konflik yang mendalam.
Kepribadian ganda seharusnya menjadi alat untuk menggali lebih dalam kehidupan Mu-hee, namun pada kenyataannya Do Ra-mi lebih berfungsi sebagai gimmick daripada bagian integral dari cerita. Tanpa pengembangan yang memadai, kehadirannya terasa tidak perlu dalam konteks cerita keseluruhan.
Penggunaan Do Ra-mi seakan memberikan jalan pintas bagi penceritaan, yang seharusnya bisa dieksplorasi dengan lebih mendalam untuk memberikan makna pada perjalanan karakter utama.
Kualitas Akting yang Mengesankan dari Para Pemeran
Meski terdapat beberapa kelemahan dalam penulisan karakter, kualitas akting Kim Seon-ho dan Go Youn-jung patut diacungi jempol. Kim Seon-ho berhasil membawa karakter Ho-jin dengan keanggunan dan keautentikan yang membuat penonton terhubung emosional.
Go Youn-jung pun tampil dengan cemerlang, menampilkan dua sisi dari Mu-hee dengan baik. Kemampuannya mengekspresikan emosi kompleks dapat dilihat melalui mikro ekspresi yang dia tunjukkan.
Chemistry antara dua karakter ini juga menjadi salah satu kekuatan dari drama tersebut. Interaksi yang mereka ciptakan menjadikan hubungan mereka terasa lebih nyata, yang berkontribusi pada pengalaman menonton secara keseluruhan.
Penutup: Harapan untuk Perbaikan di Masa Depan
Dengan segala kelebihan dan kekurangan, “Can This Love Be Translated?” menawarkan potensi cerita yang sebenarnyanya menarik. Namun, kehadiran karakter yang tidak seimbang bisa mengurangi pengalaman penonton.
Sekiranya penulis dan sutradara bisa lebih fokus pada pengembangan semua karakter, maka cerita dapat dikatakan lebih adil dan menyeluruh. Harapan akan kehadiran drama Korea yang lebih seimbang antara karakter pria dan wanita masih ada, dan semoga bisa terwujud di proyek mendatang.
Meski terdapat banyak kritik, usaha dan dedikasi para pemeran dalam menyampaikan cerita tetap layak diapresiasi, dan menjadi pelajaran bagi industri drama untuk bagaimana seharusnya mengembangkan karakter dengan lebih baik di masa depan.







