Dua Guru Besar Teologi Ditetapkan di Sidang Senat Terbuka STTRII
Daftar isi:
Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Internasional (STTRII) telah mengambil langkah besar dengan mengukuhkan dua pendetanya, Pdt. Billy Kristanto dan Pdt. Stevri P. N. I. Lumintang, sebagai guru besar dalam sebuah sidang senat terbuka yang diadakan pada 31 Januari 2026. Pengukuhan ini bukan hanya sekadar formalitas, tetapi merupakan sebuah tonggak penting bagi STTRII dalam meningkatkan pengaruhnya dalam pendidikan teologi dan pelayanan kepada masyarakat.
Acara ini berlangsung di Aula John Calvin, Reformed Millennium Center International, Jakarta. Dalam sambutannya, Ketua STTRII, Prof. Benyamin Intan, Ph.D, mengungkapkan rasa bangganya terhadap pencapaian akademik kedua pendeta tersebut dan harapannya untuk kontribusi yang lebih besar di masa mendatang.
Pdt. Billy Kristanto dan Pdt. Stevri P. N. I. Lumintang dikenal luas atas dedikasi mereka dalam pengembangan teologi Reformed, baik di dalam konteks lokal maupun global. Keduanya juga diharapkan dapat memperluas cakrawala pemikiran teologis di kalangan generasi muda dan masyarakat luas.
Peran Strategis STTRII dalam Pendidikan Teologi
Pendidikan teologi di Indonesia memiliki tantangan tersendiri, dan STTRII berkomitmen untuk menjawab tantangan tersebut dengan memberikan pemahaman yang komprehensif. Pengukuhan Pdt. Billy dan Pdt. Stevri menyoroti pentingnya memiliki pemimpin yang tidak hanya berpengalaman secara akademik, tetapi juga memahami konteks masyarakat. Melalui pendidikan yang berkualitas, STTRII berusaha menciptakan pemimpin gerejawi yang responsif terhadap kebutuhan zaman.
Dalam sidang senat, Prof. Benyamin juga menekankan bahwa STTRII akan terus berupaya meningkatkan kurikulum dan metode pengajaran. Hal ini mencakup pembekalan mahasiswa dengan keterampilan praktis yang dibutuhkan dalam pelayanan gereja serta keterlibatan di masyarakat. Dengan demikian, lulusan diharapkan tidak hanya mendalami teori, tetapi juga siap untuk menghadapi tantangan nyata di lapangan.
Tidak hanya itu, STTRII juga aktif dalam penelitian akademik yang mendukung pengembangan pemikiran teologi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan karya-karya yang relevan dan bermanfaat bagi gereja dan masyarakat luas. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab akademik yang diemban oleh institusi pendidikan teologi di Indonesia.
Pencapaian dan Harapan Baru bagi Pdt. Billy dan Pdt. Stevri
Pdt. Billy Kristanto, dalam orasi ilmiahnya, mengajak para hadirin untuk melihat teologi Reformed dari kacamata yang lebih luas. Ia berargumen bahwa teologi ini harus mampu berpadu dengan tantangan budaya dan sosial yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Menurutnya, teologi tidak seharusnya terisolasi, melainkan berfungsi sebagai alat untuk mentransformasi kehidupan masyarakat.
Hal serupa juga kembali ditegaskan oleh Pdt. Stevri Lumintang dalam orasinya yang berjudul “Theologia Misi John Calvin dan Realisasinya pada Abad ke-16”. Ia menekankan relevansi pemikiran John Calvin dalam konteks misi yang holistik dan inklusif bagi seluruh bangsa. Ini menjadi pondasi bagi penerapan teologi misi yang relevan tidak hanya pada masa lalu tetapi juga saat ini.
Pengukuhan ini memberikan harapan baru bagi komunitas teologis Indonesia, di mana kedua guru besar tersebut bisa menjadi pendorong bagi perkembangan pemikiran teologi yang responsif terhadap isu-isu kontemporer. Keduanya diharapkan mampu menjawab pertanyaan mendasar mengenai peran teologi dalam membentuk masyarakat dan kebudayaan.
Tanggung Jawab Baru dan Amanah bagi Bangsa
Pengukuhan ini bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga sebuah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Pdt. Billy menyatakan bahwa ia merasa bertambah peka terhadap isu-isu sosial yang terjadi di masyarakat. Sebagai guru besar, dia berkomitmen untuk menjawab tantangan tersebut dengan pemikiran teologis yang kontekstual dan aplikatif.
Senada dengan itu, Pdt. Stevri juga merasakan beban pertanggungjawaban yang lebih besar. Ia mengingatkan bahwa gelar guru besar bukan sekadar honor atau prestise, melainkan sebuah amanah untuk melayani, baik kepada umat Kristen maupun masyarakat luas. Ini adalah dorongan untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pemikiran dalam konteks yang lebih luas.
Keduanya berharap bahwa pengukuhan ini bisa mendorong lebih banyak individu untuk terlibat dalam pelayanan yang berkualitas, yang tidak hanya fokus pada pemeliharaan doktrin, tetapi juga pada tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Mereka bertekad untuk menjadi teladan bagi generasi mendatang dalam pelayanan teologi yang berorientasi pada masyarakat.







