CuaninAja
Beranda HIBURAN Krisis Industri Drakor di Korea Selatan meski Sukses Mendunia

Krisis Industri Drakor di Korea Selatan meski Sukses Mendunia

Industri drama Korea yang sebelumnya dikenal dengan kesuksesan globalnya kini terperosok dalam krisis yang mengkhawatirkan. Keresahan ini terungkap dalam konferensi pers yang diadakan di Korea Press Center, Seoul, di mana berbagai asosiasi industri berkumpul untuk membahas tantangan yang mereka hadapi.

Asosiasi Produksi Drama Korea dan Asosiasi Penulis TV & Radio Korea mengutarakan bahwa masalah ini lebih dari sekadar isu finansial sektoral. Mereka menyebutnya sebagai ancaman nyata bagi ekonomi Hallyu secara keseluruhan.

Berita yang dikeluarkan oleh media menyebutkan bahwa krisis ini menjadi perhatian utama bagi para pelaku di industri kreatif. Mereka mengkhawatirkan masa depan produksi drama lokal yang saat ini semakin terjepit oleh peralihan dan adaptasi pasar yang cepat.

Presiden Asosiasi Produksi Drama Korea, Song Byeong-joon, mencatat bahwa meskipun drama Korea berhasil meningkatkan ekspor di berbagai sektor seperti makanan dan kosmetik, nasib industri itu sendiri justru sebaliknya. Struktur sektor ini menghadapi tantangan yang sangat besar.

Menurutnya, peningkatan biaya produksi dan penurunan investasi telah menciptakan kondisi di mana perusahaan terus mempertaruhkan modal tanpa adanya jaminan keuntungan. Hal ini berdampak langsung pada jumlah produksi yang terus menurun.

Permasalahan Keuangan yang Menghantui Industri Drama Korea

Data yang diperoleh asosiasi menunjukkan bahwa selama dua tahun terakhir, volume produksi drama telah merosot hingga 30 persen. Dari puncak 141 judul pada tahun 2021, jumlah tayangan turun drastis tahun lalu.

Stasiun televisi besar seperti KBS, MBC, dan SBS juga merasakan dampak negatif dari penurunan ini, dengan jumlah tayangan mereka menurun dari 91 judul pada 2012 menjadi hanya 32 judul tahun lalu. Penurunan ini semakin parah dengan menurunnya pendapatan iklan yang diterima.

Para pelaku industri dengan lantang menyebutkan bahwa platform streaming global dengan modal besar, seperti Netflix dan Disney+, menjadi salah satu penyebab utama krisis ini. Kehadiran mereka dinilai telah membatasi kemampuan perusahaan lokal untuk menjaga dan mempertahankan hak atas kekayaan intelektual mereka.

Fenomena ini semakin diperburuk oleh hadirnya tren kecerdasan buatan dan maraknya produksi drama dengan format pendek. Situasi ini telah mengubah landscape industri menjadi semakin menantang bagi para kreator berbakat.

Beberapa pengamat juga mengamati bahwa hilangnya peluang kerja bagi talenta muda di industri ini menjadi masalah yang sangat mendesak. Tidak adanya lapangan pekerjaan menyebabkan banyak bakat baru terpaksa mencari peluang di tempat lain.

Tanggapan Pekerja Kreatif terhadap Krisis yang Menghantui

Park Hae-young, penulis naskah terkenal, menekankan pentingnya mempertahankan keberlangsungan industri ini. Ia mengungkapkan bahwa sering kali ia tidak bisa lagi memberikan peluang baru bagi asisten penulis yang bekerja di bawahnya.

Ia merasa khawatir dengan ketergantungan industri terhadap modal asing dan menyatakan bahwa hal tersebut dapat berbahaya bagi keberlangsungan kreatifitas. Meskipun banyak yang tercipta di bidang ini, para pekerja tetap merasa harus melawan untuk tekanan yang datang dari luar.

Sayangnya, seruan dari para profesional di industri kreatif ini justru tidak mendapatkan respons yang diharapkan dari pemerintah. Rencana anggaran Kementerian Kebudayaan diturunkan, mengindikasikan kurangnya perhatian terhadap masalah yang mereka hadapi.

Pemangkasan jumlah anggaran untuk sektor ini dari 91,8 miliar won menjadi 87,3 miliar won di tahun 2027 sangatlah mengecewakan. Terlepas dari adanya peningkatan ekspor dari industri K-Pop dan konten lainnya, perhatian terhadap sektor produksi lokal tampaknya hilang.

Ini berlawanan dengan pendekatan agresif yang dilakukan oleh negara lain, seperti Jepang, yang terus berusaha meningkatkan anggaran untuk mendukung ekspor konten mereka. Hal ini menambah kesan bahwa pemerintah Korea Selatan tidak cukup sigap dalam merespons kebutuhan industri kreatif ini.

Permintaan untuk Kebijakan yang Berkelanjutan dan Adaptif

Dalam menghadapi kenyataan yang semakin berat, banyak pelaku industri telah mengajukan berbagai tuntutan kepada pemerintah. Mereka meminta agar segera ada kebijakan yang dapat mengembalikan industri ke jalur yang tepat, sebelum terlalu banyak kehilangan terjadi.

Salah satu saran yang diajukan adalah pembentukan dana investasi jangka menengah dan panjang senilai 1 triliun won, yang dikhususkan untuk mendukung produksi lokal dan proyek-proyek kreatif lainnya. Ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan industri seni serta memberi kesempatan bagi pendatang baru.

Pentingnya keberagaman produksi juga menjadi perhatian utama, di mana para pelaku industri ingin pemerintah memahami bahwa tidak semua drama di pasar harus berjalan dengan pola yang sama. Dalam hal ini, keberhasilan satu drama seharusnya tidak menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan masa depan industri.

Dengan 99 drama yang diproduksi, 99 karya lainnya memiliki peluang untuk berkontribusi pada keberlanjutan kreatif. Adalah penting untuk memberikan dukungan bagi para kreator agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dalam industri ini.

Menanggapi situasi yang sangat mendesak ini, asosiasi industri berharap agar kerjasama dan perhatian dari semua pihak, baik pemerintahan maupun pelaku industri, dapat terjalin demi masa depan yang lebih cerah bagi industri drama Korea.

Komentar
Bagikan:

Iklan