Rating IGRS di Steam Menimbulkan Kehebohan, Belum Diverifikasi Resmi Menurut Komdigi
Daftar isi:
Media sosial saat ini sedang ramai membahas IGRS atau Indonesian Game Rating System yang muncul di platform Steam. Banyak gamer di Indonesia yang mempertanyakan keakuratan rating umur IGRS untuk sejumlah judul game, karena dianggap tidak mencerminkan isi konten dengan baik.
Keluhan ini tidak datang tanpa alasan, sebab para gamer menemukan perbedaan signifikan antara klasifikasi usia dan konten yang sebenarnya. Beberapa game, meskipun menampilkan konten yang mungkin seharusnya dihindari untuk anak-anak, justru mendapat rating usia yang tidak sesuai dengan harapan.
Perdebatan Tentang Klasifikasi Usia di IGRS
Salah satu contoh mencolok adalah game Breath of Fire IV yang mendapat rating IGRS 18+. Rating tersebut dikarenakan adanya konten yang dianggap sensitif, seperti merokok, minuman beralkohol, dan kekerasan. Namun, keanehan muncul ketika game dengan konten seksual justru mendapat label untuk anak berusia 3 tahun ke atas.
Sejumlah gamer berpendapat bahwa klasifikasi tersebut terlihat tidak konsisten dan membingungkan. Ada game yang jelas-jelas memuat elemen kekerasan, tetapi tetap mendapat rating yang sangat rendah. Ini menunjukkan adanya masalah yang perlu segera diatasi untuk menjaga kejelasan dalam pengklasifikasian game.
Kritik datang dari banyak pihak, termasuk CEO Toge Production, Kris Antoni Hadiputra, yang merasa perlu menyoroti kesalahan klasifikasi tersebut. Dalam pandangannya, IGRS memberi label yang sama sekali tidak sesuai dengan konten game yang sebenarnya.
Pernyataan dari Pihak Kementerian Komunikasi dan Digital
Menyusul kegaduhan yang terjadi, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) angkat bicara mengenai masalah ini. Mereka menekankan bahwa rating IGRS yang muncul di platform Steam bukan hasil klasifikasi resmi yang telah diverifikasi. Ini menjadi penting agar publik tidak salah paham mengenai kelayakan usia untuk bermain game.
Sonny Hendra Sudaryana, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital, menyatakan bahwa rating yang ditampilkan berasal dari mekanisme internal berbasis self-declare. Hal ini jelas menimbulkan potensi kesalahpahaman di kalangan gamer tentang apa yang sebaiknya dapat diakses oleh anak-anak.
Sonny mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam mempertimbangkan rating yang diberikan, terutama untuk game yang mungkin tampak aman namun memiliki konten yang tidak pantas. Pemberian rating yang jelas dan benar sangat penting dalam menjaga integritas industri game di Indonesia.
Kritik dari Pelaku Industri Game
Meski Kementerian telah memberikan klarifikasi, kritik tidak henti-hentinya mengalir dari berbagai kalangan, terutama pengembang game lokal. Kris Antoni, bersama rekan-rekan dalam industri, menekankan bahwa penting untuk memiliki sistem klasifikasi yang adil dan akurat. Jika tidak, hal ini dapat merugikan pengembang dan pemain.
Misalnya, game A Space for the Unbound dari Toge Production juga mengalami hal serupa. Diberi rating 18% dengan alasan yang dianggap sepele, yaitu adegan merokok yang sempat ditampilkan. Hal semacam ini menunjukkan bahwa penilaian konten harus dilakukan dengan lebih teliti.
Komunitas gamer semakin aktif mengekspresikan pendapat mereka tentang keganjilan rating yang ada. Mereka berharap agar ada dialog lebih lanjut antara pemerintah dan pelaku industri untuk menciptakan klasifikasi yang lebih baik ke depannya.
Pentingnya Sistem Klasifikasi yang Transparan
Keterbukaan dalam sistem klasifikasi game penting untuk memberikan informasi yang jelas kepada orang tua dan pemain. Sebagai contoh, banyak orang tua yang memilih game untuk anak mereka berdasarkan rating yang diberikan. Dengan demikian, akurasi menjadi sangat krusial.
Pihak pengembang dan gaming community berharap agar pemerintah segera meninjau kembali mekanisme pengklasifikasian yang sedang diterapkan saat ini. Jika klasifikasi bermasalah, dampaknya dapat menjangkau jauh lebih luas, termasuk reputasi dunia game Indonesia.
Dengan diskusi terbuka dan feedback dari masyarakat, diharapkan ke depan akan tercipta sistem klasifikasi yang lebih baik, akurat, dan dapat diandalkan oleh semua kalangan. Ada harapan bahwa masalah ini segera menemukan jalan keluar yang memuaskan bagi semua pihak yang terlibat.








