Swipe Sekali, Rp23 M Hilang! Mengungkap Sisi Gelap Startup Live Belanja
Daftar isi:
Sebuah aplikasi belanja live streaming bernama Whatnot akhir-akhir ini menjadi sorotan publik karena pengaruh yang signifikan terhadap penggunanya. Dalam waktu singkat, fenomena ini telah mengubah cara orang berbelanja barang koleksi dan fesyen, meski di balik kesuksesannya terdapat kisah yang kurang menyenangkan bagi beberapa individu.
Misalnya, seorang akuntan bernama Sean Harding mengaku membelanjakan hingga 1,4 juta dolar AS hanya dalam empat bulan. Uang tersebut didapat dari berbagai sumber, termasuk pinjaman dan utang ke teman-teman, dan ketika istrinya mengetahuinya, hubungan mereka pun berakhir di pengadilan.
Dalam laporan yang berasal dari beberapa sumber, Harding mengekspresikan betapa mudahnya terjebak dalam sistem tawar-menawar aplikasi ini. Whatnot, yang baru berusia tujuh tahun, kini menjadi salah satu platform live commerce dengan pertumbuhan paling cepat di Amerika Serikat, menawarkan barang seperti kartu koleksi, mainan, dan fesyen dalam format siaran langsung yang menarik perhatian.
Pertumbuhan Pesat Whatnot dan Efek Sampingnya
Whatnot telah mencatatkan pertumbuhan yang luar biasa, menambahkan 20 juta akun baru pada 2025. Dengan estimasi pendapatan yang diproyeksikan mencapai 1 miliar dolar AS, aplikasi ini mengklaim menguasai hampir 60% pasar live commerce di wilayah Amerika Utara dan Eropa.
Namun, pertumbuhan ini tidak lepas dari kritik terkait kecanduan yang dialami beberapa pengguna. Mark Leiser, seorang pakar hukum digital, berpendapat bahwa desain aplikasi ini senantiasa mendorong pengguna untuk berbelanja tanpa berpikir panjang, menciptakan apa yang ia sebut “degradasi persetujuan”.
Di tengah kritik tersebut, CEO Whatnot, Grant LaFontaine, menyangkal adanya masalah ketergantungan yang signifikan. Ia malah menekankan bahwa aplikasi mereka memiliki rating tinggi di Apple App Store, dengan berbagai fitur baru untuk membantu pengguna mengatur pengeluaran mereka.
Kisah Pengguna yang Terpuruk
Di tengah berbagai testimonial positif, terdapat pula cerita pilu dari pengguna yang hingga menguras tabungan mereka. Misalnya, Julie Johnson yang telah menghabiskan 120 ribu dolar AS dalam waktu tiga tahun untuk membeli barang-barang fesyen. Ia mengaku menghabiskan enam jam sehari untuk menonton siaran langsung.
Lebih tragis lagi, Joe Thompson, seorang perawat yang awalnya ingin mendapatkan keuntungan dari koin kolektor. Ia kehilangan seluruh tabungan pensiunnya dalam waktu lima bulan, setelah menyadari bahwa koin yang dibelinya ternyata tidak memiliki nilai yang diharapkan.
Perubahan drastis dalam kehidupan mereka menyoroti betapa seriusnya masalah ini, yang bisa berdampak pada aspek keuangan dan mental bagi penggunanya. Di sisi lain, kepayaan informasi yang terbatas berkontribusi pada pengambilan keputusan yang buruk dalam belanja online.
Isu Barang Curian dalam Ekosistem Whatnot
Selain masalah ketergantungan, Whatnot juga menghadapi isu terkait barang curian yang sering beredar di platformnya. Kasus ini menyoroti perlunya oversight yang lebih ketat dalam industri belanja digital dan memudarkan kepercayaan pengguna terhadap keaslian produk.
Polisi bahkan menggerebek gudang penjual sepatu terkemuka yang beroperasi melalui aplikasi ini dan berhasil menyita ribuan produk yang diduga merupakan barang curian. Terungkapnya kasus ini mempertegas pentingnya transparansi dalam setiap transaksi sehingga pengguna merasa aman dalam membeli barang.
Permasalahan tersebut tentunya memberikan tantangan yang serius bagi Whatnot untuk menjaga reputasinya di mata publik dan para pengguna. Pihak berwenang mungkin perlu menciptakan regulasi lebih ketat untuk memperkuat kontrol dan proteksi terhadap konsumen.
Kontroversi Seputar Fitur “Breaks” di Whatnot
Salah satu fitur paling kontroversial di Whatnot adalah sesi “breaks”, di mana pengguna membayar untuk mendapatkan kartu secara acak dari pembukaan kotak di depan kamera. Praktik ini, yang mirip dengan judi kasino, telah menimbulkan perdebatan mengenai legalitas dan etika penggunaannya.
Pada 2022, sebuah kartu langka bernilai jutaan dolar ditemukan dalam sesi ini, yang langsung mengundang perhatian luas. Histeria di antara penonton menunjukkan seberapa besar daya pikat dari aktivitas ini, meski berpotensi berbahaya bagi pengguna yang rentan.
Pengacara perlindungan konsumen, Paul Lesko, bahkan melayangkan gugatan terhadap Whatnot, mengklaim bahwa sistem “breaks” mereka melanggar hukum. Dalam pembelaannya, Whatnot menegaskan bahwa penerima kartu tetap akan mendapatkan barang, tidak seperti perjudian yang sering membawa risiko kehilangan total.








