Ekonom Bank Asing Prediksi Kapan Dolar AS Kembali ke Rp17000 per US Dollar
Daftar isi:
Bank DBS Indonesia memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan berada di antara Rp17.800 hingga Rp18.000 pada akhir tahun ini. Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, menekankan bahwa proyeksi tersebut masih bisa dievaluasi ulang sesuai dengan langkah-langkah kebijakan suku bunga yang diambil oleh Federal Reserve (The Fed).
Rao optimis bahwa arah pergerakan mata uang garuda cenderung berada di atas level Rp18.000. Dia menambahkan, tidak ada alasan kuat yang mendukung terjadinya pelemahan tajam pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Menurut Rao, saat ini ketidakpastian dalam faktor pertumbuhan dan kondisi lokal tampaknya sudah terwujud dalam harga. “Kita telah menyaksikan sedikit penyesuaian yang terjadi,” ujarnya pada Media Briefing DBS Institutional Forum 2026 di Jakarta.
Proyeksi Nilai Tukar dan Pengaruh Kebijakan Moneter Global
Rao menjelaskan bahwa untuk terjadinya pelemahan tajam pada rupiah, diperlukan setidaknya dua hingga tiga katalis negatif. Dia menyebutkan bahwa saat ini, satu-satunya potensi katalis negatif kemungkinan besar berasal dari faktor global, khususnya arah kebijakan The Fed.
Ia mengingatkan bahwa sentimen risiko di kalangan investor saat ini masih sangat tinggi. Banyak investor asing yang kini memilih untuk menahan diri sebelum berinvestasi di berbagai pasar, termasuk Indonesia.
“Apabila mereka akhirnya memutuskan berinvestasi di Indonesia atau negara lain seperti Korea, ini bukan lagi perbandingan antara negara-negara Asia,” tutur Rao. Namun, perbandingan harus dilakukan antar negara individu, antara negara berkembang dan skenario global secara keseluruhan.
Selisih Imbal Hasil dan Pertimbangan Risiko Investasi
Rao mencermati bahwa bila imbal hasil bebas risiko di AS berada di kisaran 4,5%-4,6%, akan ada selisih sekitar 2%-2,5% dengan imbal hasil aset-aset yang ada di Indonesia. Dia mempertanyakan apakah selisih ini cukup menarik untuk mengimbangi risiko yang terkait dengan investasi di Indonesia.
Dia juga menambahkan bahwa untuk menjadikan rupiah kembali mencapai sekitar Rp17.000 per dolar AS, diperlukan pergerakan yang signifikan pada nilai tukar dolar. “Pergerakan yang sangat tajam pada dolar AS menjadi syarat utama untuk menggerakkan nilai dolar-rupiah ke level tersebut,” ungkapnya.
Selain itu, Rao melihat kerangka kebijakan yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) dalam mempertahankan stabilitas rupiah dan pasar keuangan sudah sangat tepat. Keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak 100 basis poin selama tahun ini ia anggap sebagai langkah yang positif.
Langkah-langkah Strategis untuk Stabilitas Ekonomi
Rao menegaskan bahwa BI telah mengambil berbagai langkah non-suku bunga yang mendukung stabilitas pasar keuangan dan pasar obligasi. “Semua upaya ini berkontribusi terhadap stabilisasi pasar dan sudah menunjukkan hasil yang diharapkan,” jelasnya.
Dengan langkah-langkah ini, penting bagi semua pihak untuk terus mengikuti perkembangan nilai tukar rupiah. Selain itu, Rao mengingatkan bahwa pemulihan ekonomi juga akan bergantung pada bagaimana situasi global berfluktuasi.
Rao menekankan, meskipun ada tantangan yang harus dihadapi, langkah-langkah proaktif dari Bank Indonesia dan pemerintah diharapkan mampu menciptakan sistem yang lebih stabil dan resilient ke depan.








