CuaninAja
Beranda OTOMOTIF Pemkab Tangerang Gunakan Drone Thermal untuk Deteksi Sisa Api di TPA Jatiwaringin

Pemkab Tangerang Gunakan Drone Thermal untuk Deteksi Sisa Api di TPA Jatiwaringin

Pemerintah Kabupaten Tangerang, Banten, tengah berupaya menerapkan teknologi inovatif guna meningkatkan pengelolaan risiko kebakaran. Salah satu alat yang kini disiapkan adalah drone thermal yang bertujuan untuk mendeteksi titik panas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat respons dalam menghadapi potensi kebakaran, terutama pascapemadaman sebelumnya.

Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid, menjelaskan bahwa keberadaan drone thermal ini menjadi bagian dari strategi mitigasi kebakaran yang menyeluruh. Dalam keterangannya, ia mengungkapkan pentingnya alat ini dalam membantu identifikasi titik api yang sulit diakses, mengingat posisi api sering kali terpendam di bawah tumpukan sampah yang tinggi.

Lebih lanjut, Maesyal menyoroti pentingnya penyediaan sarana lain seperti toren air untuk mendukung proses pemadaman dan pendinginan. Dengan kapasitas toren yang mencapai 1.500 hingga 2.000 liter, harapannya adalah upaya ini dapat mencegah kebakaran berulang di area TPA.

Inovasi Teknologi untuk Memerangi Kebakaran di TPA

Upaya pemerintah daerah ini mencerminkan perhatian serius terhadap pengelolaan risiko kebakaran yang semakin sering terjadi. Pemanfaatan drone thermal memungkinkan deteksi titik panas yang lebih akurat dan cepat, yang pada akhirnya dapat mengurangi waktu respons petugas. Ini menjadi penting mengingat kebakaran di TPA Jatiwaringin baru-baru ini berlangsung selama 11 hari.

Dengan teknologi ini, petugas tidak hanya mengandalkan pengamatan manual, tetapi juga dapat melakukan pemantauan secara lebih efektif dari udara. Kemampuan drone thermal dalam mendeteksi suhu bisa membantu membedakan area yang berisiko munculnya kebakaran dari sisa-sisa kebakaran sebelumnya.

Dalam ekspektasi selanjutnya, kehadiran teknologi ini juga diharapkan dapat meminimalisir risiko bagi petugas saat berada di lapangan. Dengan informasi yang didapatkan dari drone, keputusan dalam tindakan pemadaman bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.

Proses Pendinginan Pasca Kebakaran yang Terus Berlanjut

Meski api telah berhasil dipadamkan, proses pendinginan di area kebakaran tetap harus dilakukan secara terus-menerus. Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih aktif melakukan pengecekan dan penyiraman untuk memastikan tidak ada titik api baru yang muncul.

Maesyal menekankan pentingnya tindakan lanjut ini, khususnya mengingat kondisi musim kemarau yang dapat memicu kebakaran kembali. Upaya pembasahan di seluruh area TPA Jatiwaringin melibatkan beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) agar dapat menyisir area yang berpotensi rendah.

Pihaknya menyatakan bahwa personel akan tetap disiagakan di lokasi hingga dipastikan bahwa situasi benar-benar aman. Kesiagaan ini merupakan langkah antisipatif untuk mencegah kebakaran di tengah cuaca yang tidak menentu.

Peningkatan Infrastruktur untuk Penanganan Kebakaran

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, menambahkan bahwa kehadiran drone thermal merupakan bagian dari upaya mitigasi kebakaran yang lebih luas. Dengan luas lahan TPA yang mencapai 33 hektare, pemantauan konvensional jelas tidak memadai.

Selain drone, infrastruktur tambahan seperti penempatan toren air di titik-titik rawan juga disiapkan. Hal ini bertujuan supaya pasokan air untuk upaya pemadaman selalu tersedia dan dapat diakses dengan cepat ketika dibutuhkan.

DLHK juga merencanakan pembentukan satuan tugas (Satgas) pemadam kebakaran internal TPA untuk meningkatkan efektivitas patroli dan respons, dengan menggandeng semua pihak terkait dalam rencana ini. Surat keputusan resmi akan segera dikeluarkan, menjadikan langkah-langkah ini lebih terstruktur.

Strategi Jangka Panjang untuk Pengelolaan TPA

Pada masa transisi pasca kebakaran, pemerintah daerah juga tengah menyusun strategi jangka panjang untuk pengelolaan TPA. Salah satu fokusnya adalah rehabilitasi tata pengelolaan sampah yang lebih baik, mengingat open dumping sudah harus mulai ditinggalkan.

Ujat menyampaikan perlunya perubahan pola dalam pengelolaan sampah, sehingga lahan yang tersisa dapat digunakan untuk pengelolaan berbasis teknologi. Ini akan memungkinkan pemilahan dan pengolahan sampah yang lebih efektif untuk mencegah ledakan volume sampah di masa depan.

Disamping itu, terkait dengan residu abu dan sisa kebakaran, pihaknya juga merencanakan penutupan lahan sesuai dengan saran dari kementerian terkait. Penutupan lahan akan mengurangi potensi pencemaran udara di sekitar yang bisa menimbulkan masalah kesehatan bagi masyarakat.

Komentar
Bagikan:

Iklan