Pengganti Skor Kredit, Nomor HP Aktif 10 Tahun Dapat Pembiayaan
Daftar isi:
Penggunaan nomor ponsel yang telah terdaftar selama satu dekade akhirnya diakui berperan penting dalam penilaian kelayakan calon nasabah pada platform pinjaman daring. Dalam situasi di mana rekam jejak kredit tidak tersedia, data telekomunikasi menjadi alternatif yang berharga, menjadikan proses pengajuan pinjaman lebih inklusif bagi berbagai kalangan. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi dalam cara menilai seseorang dapat membantu menjembatani gap akses terhadap layanan keuangan.
Dengan adanya alternatif data, perusahaan panel Pindar kini mampu menggali informasi lebih banyak ketimbang sekadar skor kredit tradisional. Hal ini menjadi langkah signifikan menuju sistem yang lebih adil dalam penyaluran kredit. Melalui pemanfaatan rekam jejak penggunaan nomor telepon, lembaga keuangan kini dapat mengambil keputusan yang lebih baik dan lebih cepat dalam memberikan pinjaman.
Ketua Bidang Hubungan Masyarakat Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kuseryansyah, menjelaskan bahwa pendekatan baru dalam menilai kelayakan peminjam sangat penting untuk memperluas akses fintech. Dengan metode ini, masyarakat yang sebelumnya terpinggirkan dalam hal layanan keuangan kini memiliki peluang baru untuk mendapatkan pinjaman yang mereka butuhkan.
Pentingnya Data Alternatif Dalam Penilaian Kredit
Data alternatif, seperti informasi dari sektor telekomunikasi, mampu memberikan gambaran lebih lengkap mengenai kepatuhan calon peminjam. Dengan memverifikasi riwayat penggunaan nomor ponsel, para pemberi pinjaman dapat menentukan risiko dengan lebih baik. Sistem ini memungkinkan mereka untuk tidak hanya mengandalkan skor kredit yang kadang tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya dari individu.
Menurut Kuseryansyah, penggunaan data telekomunikasi untuk menilai kelayakan pinjaman merupakan pendekatan yang lebih praktis. Contohnya, bila seseorang telah menggunakan nomor yang sama selama 10 tahun, ini menunjukkan bahwa ia memiliki kestabilan. Ini tidak hanya berfungsi sebagai indikator keberlanjutan, tetapi juga mengindikasikan bahwa peminjam kemungkinan besar tidak memiliki masalah kredit yang serius.
Melalui inovasi ini, calon peminjam yang pernah terpinggirkan kini bisa mendapatkan akses ke solusi pembiayaan yang lebih bebas hambatan. Pendekatan ini juga dapat mendorong inklusi finansial yang lebih besar, di mana siapa pun, tanpa memandang status, berhak mendapatkan akses ke kredit.
India: Potensi Besar Dalam Layanan Pinjaman Daring
Indonesia, dengan populasi besar, menjadikan negara ini sebagai target utama bagi pemberi pinjaman daring. Dengan keberadaan layanan fintech, kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan pinjaman semakin terbuka lebar. Hal ini penting untuk meningkatkan daya saing dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Kuseryansyah juga menekankan bahwa semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang kurang mampu, berhak mendapatkan akses terhadap kredit. Ini menciptakan sebuah perubahan paradigma, di mana sistem keuangan tidak lagi eksklusif untuk kalangan tertentu. Upaya untuk mendemokratisasikan akses terhadap pinjaman menjadi langkah yang sangat berarti bagi perkembangan sosial dan ekonomi.
Perkembangan ini juga terukur dari besarnya outstanding pembiayaan yang tercatat. Hingga November 2025, total nilai pembiayaan dalam sektor pinjaman daring mencapai Rp94,85 triliun, yang menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Pertumbuhan yang tercatat mencapai 25,45% tersebut menunjukkan bahwa ada peningkatan minat dan kepercayaan masyarakat terhadap fintech.
Proyeksi Kebutuhan Pembiayaan di Indonesia
Dari berbagai kajian, kebutuhan pembiayaan nasional di Indonesia diperkirakan mencapai Rp2.650 triliun. Namun, lembaga jasa keuangan konvensional baru mampu memenuhi sekitar Rp1.000 triliun dari total tersebut. Hal ini menciptakan sebuah celah yang cukup besar dalam hal pembiayaan, sekitar Rp1.650 triliun yang harus diisi.
Adanya gap ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi layanan fintech untuk menghadirkan solusi yang lebih inovatif. Dengan memperluas jangkauan dan mengembangkan produk yang sesuai, fintech bisa menjadi jembatan bagi mereka yang tidak terlayani oleh sistem keuangan konvensional.
Riset yang diadakan oleh EY MSME Market Study and Policy Advocacy mengindikasikan bahwa pada 2026, kebutuhan pembiayaan untuk sektor UMKM bisa menembus angka Rp4.300 triliun. Estimasi ini juga menunjukkan bahwa credit gap yang ada dapat mencapai Rp2.400 triliun. Ini menegaskan bahwa sektor UMKM memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.








